Posted by: Ratna on: January 15, 2008
Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.
Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.
Saya katakan suatu program karena ada tujuannya: menikah. Terstruktur, karena berisi tahapan sistematis. Dari mulai perkenalan dengan calon pasangan, lingkungannya, kebiasaannya, cara berkomunikasi, sampai visi-misi.
Mengapa saya ambil judul “Pacaran Aman”? Sebab saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).
Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!
O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai pacaran aman.
Seorang laki-laki yang ‘out of mind’ tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.
Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu jadi imam saya dan bebas rokok) memang terpenuhi.
Hari pertama pacaran, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan merupakan barang sangat mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.
Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (eh maaf, kok malah jadi OOT gini sih!)
Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong…
wah……….pacaran gaya teteh patut kita titu tuch….
tapi kayanya teteh poenya seseorang selain suami teteh ya….?
bener nggak tuch…?
saya sich liat dari muka teteh kayanya teteh poenya salah sama seseorang dimasa lalu…
tapi teh jgn dianggap omongan saya…
saya cuma merasakan aja….auranya….
he.he.he…..
Ha ha pacaran menurut saya bagus bagi yang membutuhkan, kalau saya sih pacaram ama isteri —bebas merdeka he he. Satu hal, jangan nyerempet-nyerempet. Sebagai orang yang telah nikah, kita wajib memberi pengertian kepada siapa saja yang bisa dijangkau, terutama yang muda-muda. Kira-kira begitu.
Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya,
Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger…
fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album…ada chatnya juga loh ![]()
Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an
rame buanget loohh aktifitasnya!!
Cepetan gabung ya ![]()
di sini alamatnya :
Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda -
PenulisIndonesia.com
Wah mbak ratna gaya pacaranya super apik, jarang sekali ditemukan pacaran yang model begini, aman dan nyaman…
[...] Kutipan dari sebuah artikel blog [...]
Salut dengan model pacarannya yang ditulis di atas. Dalam membina rumah tangga menurut saya yang terpenting adalah komitmen dari dua belah pihak bukan hanya kata “cinta” yang mudah sekali luntur
terimakasih ya mbak, sudah mampir di blog saya. Gaya pacaran mbak mirip dengan saya ma suami nih,tapi kalo kami cuman sebulan trus nikah. orang ketemu pertama kali sudah ‘klik,hehe……
welcome 2 my blog—–>http://tentangsemua.wordpress.com
[...] juga: Asyiknya menikah muda Pacaran aman [...]
January 15, 2008 at 8:21 am
kayaknya pacaran model anak2 muda sekarang bukan lagi nyrempet bahaya, Mbak Ratna, tetapi bener2 sudah bahaya. lihat saja mereka bisa demikian menikmati pacaran di tengah2 keramaian yang dulu termasuk pantang dilakukan anak muda seusiaku pada masa2 masih muda. di keramaian saja kayak begitu *halah* apalagi berduaam di tempat sepi!