Posted by: Ratna on: April 1, 2008
Merupakan suatu dambaan bagi setiap orang bila pernikahannya hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Hanya maut yang memisahkan. Begitu kata populernya.
Namun apa mau dikata, “Kami berdua sudah tidak ada kecocokan.” Begitu alasan klise pasangan yang akhirnya bercerai. Padahal kalau dilihat lagi ke masa lalu, mereka begitu saling mencinta sehingga memutuskan untuk menikah. Segala macam rintangan bisa disingkirkan demi menggapai pernikahan.
Ada juga pasangan yang awet sampai nenek-kakek. Tapi sebenarnya mereka berselingkuh. Dan keduanya pun sama-sama saling mengetahui. Mereka tetap dalam ikatan pernikahan demi alasan ‘gengsi bercerai’. Padahal dulu mereka berpacaran 7 tahun dan bisa saling setia meski tak dapat restu orangtua.
Ada lagi kisah seorang perempuan yang menikah sampai beberapa kali (lebih dari hatrick). Semua pernikahannya diawali dengan pacaran dan saling cinta. Namun semuanya kandas.
Dari cerita-cerita diatas, saya jadi merenung. Ternyata cinta pada awal pernikahan memang bukan hal pokok untuk mengantar sebuah pernikahan menjadi harmonis dan langgeng. Lantas apa sebenarnya yang membuat pernikahan bahagia sampai akhir hayat? Bisakah hanya dengan kekuatan cinta, pernikahan bisa selamat sampai ajal menjelang?
Menurut saya yang sok tahu, banyak faktor yang mendukung langgeng dan harmonisnya sebuah pernikahan. Beberapa mungkin ini.(Urutannya bukan berdasarkan paling penting ke tidak penting ya…)
1. Materi.
Seberapa lama orang bisa bertahan dalam kondisi morat-marit? Setiap orang mempunyai batas toleransi tertentu dalam hal materi. Orang yang terbiasa kere pun punya batas toleransi. Mungkin beberapa tahun pertama pernikahan bisa menerima dengan lapang dada kondisi megap-megap itu. Kalau kelamaan, apa masih tahan? Lihat kasus banyak ibu yang depresi karena kemiskinan. Terutama dikarenakan ia khawatir masa depan anaknya.
2. Tampilan fisik
Tidak munafik, poin ini penting. Bukan melulu masalah wajah ganteng/ cantik dan body aduhai. Tapi kebersihan, kerapihan, dan bahasa tubuh. Pokoknya: tidak cemberut dan tidak bau.
3. Keluarga pasangan
Kadang ada keluarga yang hobi ikut campur masalah rumahtangga orang lain. Yang begini biasanya malah memperkeruh suasana. Memang benar pepatah yang bilang kalau kita menikah, nikahi pula keluarganya. Jadi keluarga pasangan juga harus ‘dilihat’.
4.Simbiosis mutualisme
Keberadaan pasangan harus dirasa saling menguntungkan.
5. Respek satu sama lain
Kalau sudah ada respek, tentu tidak akan ada keinginan untuk menyakiti. Seperti menghardik, membentak, memukul, sampai selingkuh!
6. …
7. …
Intinya sih menurut saya adalah agama. Orang yang paham agama pasti ia akan berusaha memberi nafkah yang terbaik untuk keluarganya. Berusaha tampil menawan dihadapan pasangannya. Bisa bersosialisasi dengan keluarga pasangan. Berakhlak baik kepada pasangan.
Nah, kalau kita sudah bertemu dengan orang yang sebegini baik, masa sih kita tidak jatuh cinta? Apalagi ada pepatah witing tresno jalaran suko kulino. Cinta karena sering bertemu. Apalagi bertemunya dengan orang yang sangat baik dan perhatian dengan kita. Belum lagi ada acara (maaf) yang dalam bahasa sundanya making love. Artinya kan membuat cinta *heuyeuh maksa*
Jadi, jangan takut memutuskan untuk menikahi orang yang belum kita cintai. CINTA ITU BUAH DALAM PERNIKAHAN, BUKAN AKAR PERNIKAHAN. Jika bibit, bebet, bobot sudah dia miliki, kenapa tidak? Jaman sekarang, sudah jarang lho yang punya kombinasi ketiganya. Kalau sudah ketemu, hajar saja Bleh!
Apalagi ada hadits yang mengatakan: “Apabila datang padamu seorang muslim yang shaleh, terimalah ia. Jika ia mencintai istrinya, maka ia akan memuliakannya. Jika tidak, maka ia tidak akan menyakiti istrinya.”
Atau hadits yang populer ini: “ Wanita dinikahi karena empat perkara: yakni karena harta bendanya, karena kedudukanya, karena kecantikanya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung.” (HR.Imam Bukhari Muslim: melalui Abu Hurairah ra.)
…
Yang pasti, yang saya rasakan sekarang pernikahan saya bahagia. Meski dulu saya menikah tidak diawali dengan perasaan cinta. Yang ada cuma perasaan respek. Dan perasaan klik. Ini dia, the right man for my future. Begitu kata hati saya.
Insya Allah keputusan saya itu benar. Dengan bekal komitmen kuat ‘hanya maut memisahkan’ dan saling menghargai, akhirnya cinta itu pelan-pelan datang dan terpupuk dengan sendirinya.
…
Perjalanan rumahtangga saya masih panjang. Entah apa yang akan terjadi di depan sana. Namun saya selalu berharap, kami berdua akan selalu bersama dalam satu kapal. Mengarungi samudera kehidupan yang tidak hanya dihiasi pemandangan indah sunset dan sunrise. Namun juga ancaman ombak dan badai. Semoga kapal ini selalu bisa kami tempati dengan nyaman. Terlebih tiga bocah tampan, ganteng dan gagah sudah dikirimNya untuk menemani kami. Cepat besar ya, Nak. Biar Mama-Papamu ada yang bantu gulung layar, buang sauh, lepas jangkar, baca kompas, ramal cuaca, tangkap ikan…
Dedicated for My 8th Wedding Anniversary, tomorrow…
Baca juga:
Asyiknya menikah muda
Pacaran aman
dirayain kemana nih? komentator pada nunggu lho undangan makan2nya…ehehe
Wahh saya udah telat ya…seharian kemarin sibuk dan pulang malam…
Selamat atas ultah perkawinannya… percayalah cinta harus dipelihara, ibarat sebuah tanaman, yang harus dipupuk dan disiram supaya mau berbunga serta berbuah.
Mbak Ratna, kalau udah “klik” itu namanya cinta….cewek kan memang suka bingung, pernah nggak bertanya pada diri sendiri, benarkan saya cinta sama dia? Padahal kalau ditinggal, sedihnya nggak ketulungan, dan baru sadar bahwa itu rasa cinta. Dan cinta, jika diperlihara, akan membuat cinta itu makin indah, karena kita tak melihat hanya dari segi fisik lagi, tapi ada hal lain yang lebih berharga. Percayalah…..
[...] untuk apa, ada manfaatnya tidak? Malah banyak madorotnya aja kan? Makanya aku mikir mendingan kita kawin saja langsung daripada ngelakuin kayak gitu terus. Aku juga sudah bilang kalau aku ingin kamu [...]
Betul mbak, tapi karena dunia ini makin hari makin rusak saja, makin luntur deh nilai-nilai itu, akibatnya seperti yang diceritakan diatas, walau paham masalah agama, tapi tetepa bermasalah juga…
Mbak selamat ya, barakallah
*saya ucapkan seperti pada pasangan baru* ![]()
Boleh nanya ya, bagaimana bisa sampai pada ini;-
Yang ada cuma perasaan respek. Dan perasaan klik. Ini dia, the right man for my future. Begitu kata hati saya.
Pernikahan adalah sekolah cinta. Ada sebuah artikel menarik dari milis yang saya posting di blog saya : http://www.hendra.ws/pernikahan-adalah-sekolah-cinta/
tidak semua seberuntung anda…selamat yaa
April 2, 2008 at 12:05 am
waaahhh
happy 8th wedding anniversary ya mbak..
tulisannya bagus deh
Mudah2an perkawinannya langgeng..
Mudah2an perkawinanku juga bisa langgeng..
amin..