Hajatan oh… hajatan

Beberapa bulan lalu keluarga saya mendapat undangan untuk menghadiri acara syukuran khitanan putra salah seorang ********* . Meski diadakan di halaman rumah, acara berlangsung sangat meriah. Ada orkes dangdut…eh,bukan. Nyanyi-nyanyi pakai iringan keyboard dengan speaker distel overloud. Hidangan pun tersaji dengan wah. Aneka menu makanan dan minuman yang sangat beragam membuat lidah ini tak mau pulang (??) Tuan rumah pun tak ketinggalan meriah. Terlihat dari busana yang mereka kenakan. Sangat jauh dengan apa yang saya pakai hari itu.
Yah…pokokya untuk ukuran saya, pasti hajatan itu menelan biaya lumayan besar.

Namun saat malam tiba. Secara tak sengaja saya mendengar suara ribut-ribut. Orang berantem. Yang satu suara nyonya rumah pemilik hajatan, satu lagi suara laki-laki yang entah siapa, berkata-kata kasar. Saat itu saya dalam keadaan tidak bisa beranjak dari tempat saya jongkok berada (tempat dirahasiakan :mrgreen: ) dan berada dekat tempat mereka ribut. Jadi percakapan itu mau tak mau bisa saya dengar dengan jelas. Wah, ternyata topiknya berat nih. Soalnya yang berantem dengan nyonya rumah itu debt kolektor. Rame pokoe. Sang penagih hutang itu bicara dalam bahasa Jerman: ” Ari hajatan bisa, tapi hutang teu dibayar wae!”

Tuh kan!

Bagi sebagian orang, menyelenggarakan hajatan atau pesta adalah suatu hal penting. Berhutang pun jadilah. Alasannya beragam. Dari mulai silaturahmi (bertemu dengan sanak-saudara jauh) sampai alasan prestise. Nenek saya pun termasuk orang yang menganggap penting diadakannya sebuah hajatan. Hajatan karena khitan, naik pangkat, lulus kuliah, pergi haji, kelahiran, apalagi pernikahan. Semua seakan wajib diagendakan.

Pun ketika melihat anak sulung saya sudah besar, 6 tahun, nenek saya membuka wacana kembali tentang hajatan untuk khitanan putra kami itu. Akhirnya perbincangan merembet juga kepada dua anak kami yang lain, yang juga lelaki. Aduh bow. Tiga kali hajatan getu loh! Atau 3 in 1 kan saja? Seperti khitanan massal saja…

Tapi saya bilang kepada nenek tercinta, kalau kami tidak akan menyelenggarakan perayaan apapun saat mengkhitankan anak-anak kami. Sayang uangnya. Mendingan dipakai buat tabungan atau asuransi pendidikan mereka. Itu lebih berguna untuk masa depan mereka. Ketimbang uangnya habis dipakai hajatan dalam sehari. Kalau kami orang yang berlebih harta sih mungkin ngga masalah ya…

Nenek saya terdiam. Mungkin berat bagi beliau untuk menerima argumen saya. Beberapa tahun lalu ketika anak ke-2 saya baru lahir, nenek pernah juga membahas soal hajatan khitanan anak saya itu. Padahal masih lama ya? Baru juga nongol…
Ya sih. Soalnya tetangga kami yang keadaan ekonominya sederhana mampu menggelar hajatan dengan mengundang artis lokal daerah.

Apa mungkin ya nenek saya malu cucunya tidak bisa bikin hajatan? Kesannya cucunya itu kere gitu… Soalnya nenenda bilang, “Masa **** saja bisa hajat?”

Ah, nenek…

About these ads

17 thoughts on “Hajatan oh… hajatan

  1. buat babeh, pendapat nenek ada benarnyah, tapi argumen neng ratna jg g salah… (*jd gimana nich? gitu mungkin pertanyaan nyang muncul…brikutnyah*) maksudnyah ttp hajatan sih, sebage tasyakur binni’mah aja, biasa ngundang… mo 3 in 1 or 2 in 1 ma aja…… tp g usah pake orkes segala apalagi nyampe nganjuk-hutang (kayak ttngga ituh) ihg na’udzubillahi min…. (*koq jd ceramah nich emangnyah diminta pendapatnyah…?*)la wong baru wacana kan… iya emang.. buat babeh siapa tahu pesen bikin undangannyah gituh he..he.. (*ribet amat ye*)

  2. Iya nih Teh..

    Dibalik hajatan yang mewah bin prestise itu kadang ikut mengundang hutang yang membumbung juga..

    Contone dulu, tetangga yang juga saudara sepupu saya, hajatannya kayak gitu loh.. Dibalik hajatan yang mewah itu eh ternyata hutangnya numpuk bow!

    Kenapa ya hajatan itu mesti pake mewah-mewahan segala… Mending cukup disyukurin aja, sebarin kabar juga bagi-bagi tumpeng door to door itu lebih baek yaa dari pada buang-buang uang.. Kan sayang tuh..

    Hee.. :lol:

  3. saya setuju dgn pendapat jeng ratna, uang buat hajatan mendingan kita tabung buat masa depan jeng. ya…kalau mau hajatan ya seperlunya aja buat syukuran, ga perlu mewah2 untuk prestise apalagi pake acara ngutang segala. ngeurakeun wae nya….

  4. Saat itu saya dalam keadaan tidak bisa beranjak dari tempat saya jongkok berada (tempat dirahasiakan)

    Saya tahu dimana ibu Ratna berada !!!
    *sambil ambil handuk* :evil:

    Iya bu .. istilahnya social cost kadang lebih mahal dari biaya hidup hik hik hik :(

  5. hehehehe… mommy bingung neneknya pengen hajatan ya. saya sebenernya juga males apa2 dibikin beracara seperti itu, capek – ribet – dan biaya :-) dari kecil saya aja ulang tahun ngga pernah diperingati, khitanan juga ngga rame2.
    btw, ada orang hajatan mommy jg punya hajat sendiri tuh sambil jongkok ;-)

  6. iya mbak..
    rasanya ada yang aneh kalo untuk hajatan anak sampe nyari-nyari sumber pembiayaan ( ngutang )..
    saya setuju kalo uangnya itu bisa dimaksimalkan untuk pembiayaan sekolah..
    lebih bermanfaat..

  7. HHmmm …
    Ya memang seperti itu ya …
    Dan ada satu lagi … Bagi kita-kita … yang tidak punya anak perempuan …
    Katanya “Khitanan” adalah semacam “punya gawe”nya / “Pengantinnya” anak laki-laki … jadi biasanya pake Hajatan yang agak besar …

    Tetapi kalau sudah sampai seperti cerita Ibu Ratna diatas … wwwaaahh ya itu sih sudah besar pasak dari pada tiang tentunya …

    Makasih bu Ratna

  8. Sepertinya kita perlu melaporkan ke KPK masalah hajatan ini, kenapa? Ya kalau rakyat kecil ngadain hajatan pakai duit hasil utang tapi bagaimana dengan para pejabat? Duitnya dari mana tuh :lol:

  9. Bener mbak. Kadang-kadang bukan cuma untuk pamer, tapi kayaknya sudah suatu kewajiban. Kalau orang jawa “slametan”. Kalau gak slametan takut kualat ato apa. Contohnya mitoni waktu hamil 7 bulan, megengan, mudun lemah, apeman dll. Sering untuk menyelenggarakan “slametan” tersebut sampai hutang atau jual tanah / rumah segala. Thanks sudah mampir ke blog saya. Salam kenal juga.

  10. hare gene masih ada hajatan! Jaman apa2 mahal dikala ekonomi sulit tentunya hajatan bukan merupakan sesuatu yang penting. Apalagi malu kalo tidak ada acara hajatan.

    Mending uangnya diinvestasi, betul kata mbak ratna. Saya sangat sependapat mbak.

  11. @ babeh
    Beh, syukuran (tanda kutip) juga lumayan mahal bagi saya. Nasi dus komplit aja berapa coba? Kaliken rumah sekomplek. Belum suguhannya, belum ngongkosin ibu-ibu pengajiannya, belum uang terimakasih bagi yang ikut beberes… Halah…

    @ Blogie
    Tumpeng. Ini dia. Saya suka nunggu-nuggu dikasih tumpeng. Tapi giliran numpeng, malah dengan soknya bilang “Hajatan oh…hajatan” :mrgreen:

    @ kaudanaku
    Yang ngerakeun tuh yang ketauan Mbak. Kalau yang ngga ketauan sih masih bisa petantang-petenteng *mode sirik on*

    @ erander
    Weks, ada yang ngintip! *ambil air segayung*
    Kemana larinya ya?

    @ wong ngawi (padahal samsul lho!)

    Ih, saya jongkok cuma mungutin remah-remah sisa hajatan kok, buat dikasih ke ayam…

    @ tehaha
    Begitulah salah satu cara orang unjuk gigi eh, unjuk harta.

    @ nh18
    Kalau kondisi keuangannya memungkinkan sih ya ngga kenapa-kenapa pakai hajatan besar. Orang-orang juga pasti senang diundang ke hajatan nan mewah. Bisa makan enak gratis.
    Kalau pengalaman Pak Trainer sendiri bagaimana waktu mengkhitan anak?

    @ Rezki
    Ya hasil menjabat dong ah…:)

    @ tcpmi
    Maksutnyah…hibahkan utangnya? Oh,boleh-boleh…ntar saya sampaikan ke nyonya rumah yang punya hajatan :)

    @ Diah R
    Sama Mbak. Di Sunda juga begitu. Banyak pamali-pamalinya kalai ngga hajatan…

    @ Resi Bismo
    Di jaman serba mahal seperti ini malah makin banyak yang hajatan. Soalnya lebih bergengsi. Orang lain morat-marit, dia masih berjaya…

  12. orang indo kan emang paling demen bikin keriaan, teh

    event apa aja bisa buat bikin rame2
    dari belum lahir sampe udah jadi penghuni kubur
    dari mulai empatbulanan,nujuhbulanan,lepas tali puser,turun dari ayunan,ulang taun,selametan kelulusan,syukuran jadi pejabat,sampe tahlilan kematian yang tujuh hari lah, empatpuluh hari lah,haul taunan lah

    astaghfirullah..padahal kalo ditanya dalil paling2 UUT (undang2 tradisi) doang

  13. Ati-ati ah ama statement-nya

    Saia pernah “menggugat” soal tradisi yang di-fardhu-kan banyak orang

    Katanya..orang yang ga menghormati adat cuma orang yang keluar dari batu..syerem kan?

    Mungkin akhlak kita yang terlalu jauh dari Rasulullah. Beliau bisa mentransfer kebiasaan jahiliah jadi syariat oriented dengan iman, kita ga sanggup meng-copy paste itu demi menghapus jejak-jejak agama Majapahit dari masyarakat kita. Wallahu’alam.

  14. Saya sih ngga menggugat tradisi do’a atau syukurannya. Tapi hajatannya itu loh. Bertamengkan do’a dan syukuran, tapi sebenarnya ingin pamer. Misalnya syukuran kenaikan pangkat.
    Atau anggota keluarga meninggal, sedang berkabung, tapi harus memikirkan bagaimana menyuguhi orang yang melayat. Paling hanya berharap, mudah-mudahan sanak-saudara yang lain peduli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s