Posted by: Ratna on: April 5, 2008
Beberapa bulan lalu keluarga saya mendapat undangan untuk menghadiri acara syukuran khitanan putra salah seorang ********* . Meski diadakan di halaman rumah, acara berlangsung sangat meriah. Ada orkes dangdut…eh,bukan. Nyanyi-nyanyi pakai iringan keyboard dengan speaker distel overloud. Hidangan pun tersaji dengan wah. Aneka menu makanan dan minuman yang sangat beragam membuat lidah ini tak mau pulang (??) Tuan rumah pun tak ketinggalan meriah. Terlihat dari busana yang mereka kenakan. Sangat jauh dengan apa yang saya pakai hari itu.
Yah…pokokya untuk ukuran saya, pasti hajatan itu menelan biaya lumayan besar.
Namun saat malam tiba. Secara tak sengaja saya mendengar suara ribut-ribut. Orang berantem. Yang satu suara nyonya rumah pemilik hajatan, satu lagi suara laki-laki yang entah siapa, berkata-kata kasar. Saat itu saya dalam keadaan tidak bisa beranjak dari tempat saya jongkok berada (tempat dirahasiakan
) dan berada dekat tempat mereka ribut. Jadi percakapan itu mau tak mau bisa saya dengar dengan jelas. Wah, ternyata topiknya berat nih. Soalnya yang berantem dengan nyonya rumah itu debt kolektor. Rame pokoe. Sang penagih hutang itu bicara dalam bahasa Jerman: ” Ari hajatan bisa, tapi hutang teu dibayar wae!”
Tuh kan!
Bagi sebagian orang, menyelenggarakan hajatan atau pesta adalah suatu hal penting. Berhutang pun jadilah. Alasannya beragam. Dari mulai silaturahmi (bertemu dengan sanak-saudara jauh) sampai alasan prestise. Nenek saya pun termasuk orang yang menganggap penting diadakannya sebuah hajatan. Hajatan karena khitan, naik pangkat, lulus kuliah, pergi haji, kelahiran, apalagi pernikahan. Semua seakan wajib diagendakan.
Pun ketika melihat anak sulung saya sudah besar, 6 tahun, nenek saya membuka wacana kembali tentang hajatan untuk khitanan putra kami itu. Akhirnya perbincangan merembet juga kepada dua anak kami yang lain, yang juga lelaki. Aduh bow. Tiga kali hajatan getu loh! Atau 3 in 1 kan saja? Seperti khitanan massal saja…
Tapi saya bilang kepada nenek tercinta, kalau kami tidak akan menyelenggarakan perayaan apapun saat mengkhitankan anak-anak kami. Sayang uangnya. Mendingan dipakai buat tabungan atau asuransi pendidikan mereka. Itu lebih berguna untuk masa depan mereka. Ketimbang uangnya habis dipakai hajatan dalam sehari. Kalau kami orang yang berlebih harta sih mungkin ngga masalah ya…
Nenek saya terdiam. Mungkin berat bagi beliau untuk menerima argumen saya. Beberapa tahun lalu ketika anak ke-2 saya baru lahir, nenek pernah juga membahas soal hajatan khitanan anak saya itu. Padahal masih lama ya? Baru juga nongol…
Ya sih. Soalnya tetangga kami yang keadaan ekonominya sederhana mampu menggelar hajatan dengan mengundang artis lokal daerah.
Apa mungkin ya nenek saya malu cucunya tidak bisa bikin hajatan? Kesannya cucunya itu kere gitu… Soalnya nenenda bilang, “Masa **** saja bisa hajat?”
Ah, nenek…
hehehehe… mommy bingung neneknya pengen hajatan ya. saya sebenernya juga males apa2 dibikin beracara seperti itu, capek – ribet – dan biaya
dari kecil saya aja ulang tahun ngga pernah diperingati, khitanan juga ngga rame2.
btw, ada orang hajatan mommy jg punya hajat sendiri tuh sambil jongkok
Sepertinya kita perlu melaporkan ke KPK masalah hajatan ini, kenapa? Ya kalau rakyat kecil ngadain hajatan pakai duit hasil utang tapi bagaimana dengan para pejabat? Duitnya dari mana tuh
Bener mbak. Kadang-kadang bukan cuma untuk pamer, tapi kayaknya sudah suatu kewajiban. Kalau orang jawa “slametan”. Kalau gak slametan takut kualat ato apa. Contohnya mitoni waktu hamil 7 bulan, megengan, mudun lemah, apeman dll. Sering untuk menyelenggarakan “slametan” tersebut sampai hutang atau jual tanah / rumah segala. Thanks sudah mampir ke blog saya. Salam kenal juga.
April 5, 2008 at 3:21 pm
buat babeh, pendapat nenek ada benarnyah, tapi argumen neng ratna jg g salah… (*jd gimana nich? gitu mungkin pertanyaan nyang muncul…brikutnyah*) maksudnyah ttp hajatan sih, sebage tasyakur binni’mah aja, biasa ngundang… mo 3 in 1 or 2 in 1 ma aja…… tp g usah pake orkes segala apalagi nyampe nganjuk-hutang (kayak ttngga ituh) ihg na’udzubillahi min…. (*koq jd ceramah nich emangnyah diminta pendapatnyah…?*)la wong baru wacana kan… iya emang.. buat babeh siapa tahu pesen bikin undangannyah gituh he..he.. (*ribet amat ye*)