Wanita bekerja di luar rumah?

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai mereka yang mempunyai kesibukan di luar rumah. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga cukup banyak wanita yang akhirnya merasa terjerat, jenuh, karena kehidupannya semata-mata adalah istri, ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.

Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah berperasaan seperti itu. Padahal Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”

Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Kini banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan. Tetapi apakah wanita-wanita ‘sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal waktu yang sudah ditentukan.

Cukup banyak wanita yang bekerja, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja di luar rumah. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:

1. Bekerja untuk hidup mewah.

Apabila wanita mau berterus terang, kebanyakan dari mereka bekerja karena terdorong oleh keinginan membeli barang-barang konsumsi yang tidak dapat dibeli dari penghasilan suami. Mereka bekerja utuk memenuhi keinginan untuk dapat mengecap kemewahan. Bisa jadi juga memang ada lelaki yang mendorong istrinya bekerja, karena cukup banyak lelaki yang mendambakan hidup mewah.

2. Rasa jenuh.
Sebenarnya untuk mengatasi kebosanan bukan dengan jalan bekerja di luar rumah. Malahan kemungkinan besar sekali, bekerja merupakan awal dari satu masalah yang lebih rumit lagi.

3. Ingin mencari pengalaman yang mengasyikkan di luar rumah, berada diantara orang-orang lain.

4. Ingin meringankan beban suami.
Namun yang terjadi seringkali beban suami justru menjadi lebih berat tatkala wanita bekerja di luar rumah. Apabila memang mau membantu suami dalam mengatasi masalah keuangan, mungkin jalan yang paling baik adalah mengurangi segala keinginan yang konsumptif itu.

5. Iseng.

Di Amerika para pekerja sosial mengadakan penelitian mendalam tentang anak-anak yang ibu mereka bekerja. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan, “The mother’s presence in the home during the day means everything to the child’s feeling of well being and security, even though she may be busy with home making tasks.” (Bahwasannya kehadiran ibu dalam rumah seharian mempunyai arti yang besar sekali untuk perasaan keamanan dan kesejahteraan anak. Walau sang Ibu pada saat bersamaan sibuk juga dengan pekerjaan rumahtangganya.”

“The trend for the mother to be out of the home is a pattern of living which has extended for thirty years in America, since the emergency of World War II took millions of women into factories. It has been during this time that we have developed some of our threatening social problems, marriage problems, divorce, violence in the streets and on campus, drug abuse, rebollion against social customs and moral standard. Many of these problems can be traced to homes of working mothers. The children fail to developed properly, or developed into mental cases or fail to find purposes or happiness from life. They turn from the ways the parents and seek new ways.”

Sungguh mengerikan. Rupanya penyalahgunaan obat-obat ataupun ganja dan morfin, konon banyak sekali bersumber dari keluarga dimana ibu tidak mempunyai waktu untuk anak-anaknya. Ini hasil penelitian di Amerika. Bagaimana dengan keadaan kita disini?

Menurut saya sih, ibu yang tidak punya waktu untuk anak-anaknya bukan hanya wanita yang punya karier di luar rumah. Ibu-ibu rumah tangga juga bisa menelantarkan anak-anaknya dengan sibuk ngegosip di tetangga, nongkrong terus-terusan di depan TV nonton shitnetron, atau mungkin juga keasyikan ngeblog :) Mudah-mudahan sih saya ngga gitu…

Kemudian Dr.David V.Haws, Ketua RSJ di Phoenix mengatakan, “Mother must be returned to the home. The standard of living is a fictious thing. It is a woman’s premodial function to stay home and raise children. She should not join the hunt with men. A man, too feels less of a man when his wife works. If you don’t leave a family of decent kids behind, you have left nothing. Basic to the solution of adolescent problems of any generation is an intact home.”

Ini bukan mau menentang wanita yang bekerja di luar rumah lho. Hanya sekedar bahan perenungan bersama… Toh banyak wanita karier punya anak-anak yang berprestasi dan berakhlak baik. Tak sedikit pula ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah tapi punya anak ‘berantakan’. Ya fisik, ya mental…

27 thoughts on “Wanita bekerja di luar rumah?

  1. sepakat, mbak ratna, tapi ada tapinya loh. kalau perempuan karier bisa menjadi sosok androgini, pantas diacungi jempol tuh. sukses berkarier sekaligus mampu membangun keluarga yang harmonis.

  2. Mbak, pemikiran mbak di atas bisa diperkaya dengan konsep Kyōiku mama di Jepang. Info lengkapnya ada di Wiki ya.

    Sharing dikit, saya dan saudara-2 dibesarkan oleh orang tua yang bekerja semua, ada masanya karena kebutuhan ekonomi yang mendasar, orang tua terpaksa bekerja lebih dari 16 jam sehari. Itu terjadi ketika kami masih sangat kecil. Tapi alhamdulillah, keluarga kami baik-baik saja sampai saat ini. Jadi tidak selamanya Ibu yang bekerja tidak bisa menjalankan peran seorang Ibu yang baik. Terus terang saya terkesan dengan Ibu saya dan ragu apakah saya bisa seperti beliau kelak kalau saya sudah berumah tangga, tapi kalau beliau bisa mengapa saya yang telah dididiknya tidak?, dan rupanya kesan yang mendalam juga ditangkap oleh dokter langganan saya. Sampai-sampai kalau saya berkunjung ke beliau, yang pertama ditanya bukan keadaan saya, tapi Ibu saya. :)

  3. Ah, satu lagi tulisan yang ‘mendukung’ pemikiran saya :D

    Bener loh, saya juga kalau pulang ke rumah nggak menemukan sosok ibu, jadi resah… apalagi kalau pada saat ibu meninggalkan rumah, nggak ada makanan tersaji d meja makan. Huehehehe, ini sih lain motifnya :D

  4. Usul:
    Bagi-bagi tugas:
    Misua serius cr nafkah, istri serius menddk anak dg kasih sayang. dan bersama-sama mensyukuri yg ada (tentunya penghasilan berbeda dong kalau kerja berdua)
    Misua tinggal pantau perkembangan.

    So lebih setuju kalau Istri tetap dirumah.

    Memang biasanya kendala terbesar di:
    –Ibu-ibu rumah tangga juga bisa menelantarkan anak-anaknya dengan sibuk ngegosip di tetangga, nongkrong terus-terusan di depan TV nonton shitnetron, atau mungkin juga keasyikan ngeblog–

  5. yang jelas nih ya mba, boleh aja si berkarir, tapi liat dulu sikon nya, cocok ngga? takutnya gara2 berkarir rumah tangga jadi g terurusi, terus sering kali nya bergaul dengan lelaki yang bukan muhrim, kalo banyak si masih mending, takutnya lagi berduaan dalam ruangan tertutup.
    ekonomi memang penting, saling membantu juga penting tapi jangan sampai melupakan kewajiban sebagai seorang istri….

    saya sangat setuju dan suka cew yang berkarir, sesuai dengan hukum Allah…

  6. Sebetulnya yang penting adalah hak perempuan untuk memilih, apakah bekerja diluar rumah, bekerja di rumah atau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Semuanya tentu mempunyai pertimbangan tertentu.

    Karena tak bisa dikaitkan antara anak yang gagal ataupun berhasil karena ibunya bekerja di luar rumah. Banyak juga keluarga yang keduanya bekerja di luar rumah, anak-anaknya berhasil lulus dengan membanggakan. Bekerja dirumahpun memerlukan kedisiplinan tinggi, bahkan menurut saya lebih sulit (saya sekarang lebih banyak bekerja di rumah)…karena kita harus benar-benar bisa membagi waktu.

    Apapun yang dipilih, tentunya ibu bisa mempertimbangkan untuk kebahagiaan seluruh keluarganya(suami dan anak-anaknya).

  7. Tidak sedikit buat perempuan, bekerja di luar rumah bukan pilihan tapi keharusan karena berbagai alasan. Apapun pilihannya, yang perlu didorong ke depan adalah; seberapa besar ‘self’ benar2 hadir sepenuhnya dimana dia berada…. thats where quality comes from… cheers

  8. menurut sy mah dilihat dari sisi urgensinya ajah…bila memang benar2 dibutuhkan ya wanita boleh sj ikut bekerja, tp bila dirasa anak2 sdg membutuhkan perhatian kita lebih maka mengalahlah…

    *nasihat buat diri sendiri kelak* ;)

  9. WANITA BEKERJA DILUAR RUMAH????
    AK KAYAKNYA PERNAH BACA ARTIKEL DULU JUDULNYA SAMA TAPI ISI BEDA…..
    NTAR DEH AKU CARI PEMBAHASAANYA

    TAP MENURUTKU SELAMA SUAMI MASIHJH MAMPU..
    MENDING ISTRI DI RUMAH DEH…..

  10. oh yesss, so pasti bener n banyak beredar diantara kita dua model wanita atau ibu yang ditulis pada bagian akhir postingan inih…. benar, ini tidah lebih dari sebuah renungan (*khusus bagi wanita/ibu…?? bapak2nya ga masuk ya….*)

  11. ya semoga ga keasyikan ng-blog ya..

    menurut saya, wanita itu harus bisa memposisikan dirinya sebagai wanita yang mengerti akan kodratnya, meskipun ia berkerja atau dirumah.

    bukannya ngomongin orang tapi di kost saya kejadian seperti itu, ibu yang sibuk dengan urusannya sendiri hingga anak-anaknya tumbuh bersama nenek dan bibinya yang lebih banyak mengajari berteriak dan memerintah dan tidak terselip pendidikan ahklak.

  12. aku sih termasuk orang yg ingin agar istri ku dapat di rumah dan lebih concern terhadap anak-anak ku..
    tapi aku juga termasuk orang yg tidak ingin mengekang…

    jadi ya selama itu yang terbaik menurut istriku.. aku turut seneng aja..

  13. Saya termasuk anak seorang wanita yang bekerja diluar rumah, pagi2 emak sudah berangkat kerja waktu balita seingat saya, jarang sekali bertemu emak paling kalo malam hari. Pagi2 saya ditemani bapak, karena bapak sekolah lagi sehingga masuk kantornya fleksible (PNS). Ada hal yang membuat saya beruntung yakni saya berusaha untuk mandiri.
    Saya maklum emak bekerja untuk menopang hidup keluarga, juga beberapa adik2nya yang membutuhkan biaya untuk sekolah.
    Jadi gak salah kok wanita bekerja diluar rumah asal ada ijin suami dan tahu kodratnya sbg wanita.

  14. @ sawali tuhusetya
    Betul. Belum tentu saya mampu memerankan kedua tokoh tersebut sekaligus. Makanya saya pilih cukup jadi ibu rumah tangga saja dulu. Takut stress, disini harus ngurus rumah dan segala tetek-bengeknya, disana kerjaan kantor mesti diurusi pula. Beuh!

    @ yoga
    Bangga ya punya ibu seperti ibunya Yoga :)
    OK, segera terbang deh ke Wiki…

    @ Donny Reza

    Bagi saya juga, pertama kali merasa kehilangan ibu itu ketika tidak ada makanan buatannya :)

    @ erander

    Saya belum nemu tuh Pak surveynya(ngga nyari sih :) ) Memang tulisannya akan lebih ilmiah dan bermutu kalau didukung data-data seperti itu.
    Ya. Bagaimanapun urusan gender tidak akan pernah bisa disamaratakan.

    @ achoey sang khilaf
    Ya, semoga benar-benar meringankan beban.

    @ trijokobs
    Apapun pilihannya, yang penting bertanggungjawab atas pilihannya dengan segala konsekuensi. :)

    @ hafidzi
    Betul. Itu salah satu resiko yang mungkin terjadi kalau istri berkarir di luar rumah.

    @ nh18
    Terima kasih kembali… :)

    @ edratna

    Ya. Sebagai ibu, kita memang sangat berperan untuk menciptakan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga. Kita bekerja diluar rumah atau di rumah saja yang penting semua hepi :) Dan yang pasti kita berkarir atas izin dan dukungan suami dong ya…

    @ muliaarif
    Ya. Saya juga menemukan beberapa wanita di sekitar saya yang terpaksa bekerja (padahal dia sendiri tidak mau kerja, karena khawatir meninggalkan anak di rumah) karena suaminya diPHK.

    @ Rezki
    Wah, kalau saya malah berpikiran Mas Rezki itu sok ngga tau. Padahal tau banyak :)

    @ theloebizz

    Dibawa simple aja ya Mbak!

    @ myviolet

    Memang topik yang sudah umum dibicarakan. Tapi lumayan lah buat review :)

    @ babeh

    Bapak-bapaknya juga dong…ikut merenung. Ada istri yang senang tinggal di rumah saja, ada pula yang bosen ‘ngendon’ melulu di rumah. Jadi urusan bekerja atau tidak, bisa dikomunikasikan bersama sejauh apa kebutuhannya. Lagian istri bekerja harus atas izin suami kan?

    @ baliazura
    Meski sibuk, memang ibu harusnya tidak lepas kendali.

    @ samsul

    Tapi biasanya kalau sudah menikah dan punya anak, jenuh itu terobati lho…

    @ Okta sihotang

    Pengalaman teman-temannya ya? :)

    @ oRiDo

    Wah, suami yang pengertian… :)

    @ Resi Bismo
    Yup betul. Asal bertanggungjawab terhadap pilihannya.

  15. Yah memang berat bagi wanita yang harus bekerja dan sekaligus menjadi Ibu Rumah Tangga. Dukungan dan kerjasama yang baik dari suami dan keluarga besar sangat menentukan dalam menjaga keharmonisan keluarga dan pendidikan anak.
    Saat ini pun saya bekerja, tapi saya juga berharap tidak harus begini terus. Saya berharap suatu saat nanti bisa menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik bagi anak dan suami tapi masih tetap bisa berpenghasilan, masih tetap bisa berkembang ilmu dan pengetahuannya. Tidak dengan bekerja kantoran melainkan buka usaha sendiri, walaupun masih dalam skala kecil. Kalo ada waktu silahkan kunjungi blog saya http://0194octora.wordpress.com

  16. sungguh…..sudah seminggu ini aq galau. pengen rasanya segera resign dari segala urusan kantor dan berpindah kerumah untuk ngurusi anak-anak. Tapi suami masih melarang dengan alasan belum tentu kalo aku dirumah anak-anak menjadi bintang kelas semua, apa aq bisa menjamin anak-2 akan menjadi sukses kalo ibunya ibu rumah tangga??? gitu tanyanya. puzing dech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s