Posted by: Ratna on: April 16, 2008
Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai mereka yang mempunyai kesibukan di luar rumah. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga cukup banyak wanita yang akhirnya merasa terjerat, jenuh, karena kehidupannya semata-mata adalah istri, ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.
Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah berperasaan seperti itu. Padahal Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”
Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Kini banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan. Tetapi apakah wanita-wanita ’sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal waktu yang sudah ditentukan.
Cukup banyak wanita yang bekerja, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja di luar rumah. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:
1. Bekerja untuk hidup mewah.
Apabila wanita mau berterus terang, kebanyakan dari mereka bekerja karena terdorong oleh keinginan membeli barang-barang konsumsi yang tidak dapat dibeli dari penghasilan suami. Mereka bekerja utuk memenuhi keinginan untuk dapat mengecap kemewahan. Bisa jadi juga memang ada lelaki yang mendorong istrinya bekerja, karena cukup banyak lelaki yang mendambakan hidup mewah.
2. Rasa jenuh.
Sebenarnya untuk mengatasi kebosanan bukan dengan jalan bekerja di luar rumah. Malahan kemungkinan besar sekali, bekerja merupakan awal dari satu masalah yang lebih rumit lagi.
3. Ingin mencari pengalaman yang mengasyikkan di luar rumah, berada diantara orang-orang lain.
4. Ingin meringankan beban suami.
Namun yang terjadi seringkali beban suami justru menjadi lebih berat tatkala wanita bekerja di luar rumah. Apabila memang mau membantu suami dalam mengatasi masalah keuangan, mungkin jalan yang paling baik adalah mengurangi segala keinginan yang konsumptif itu.
5. Iseng.
Di Amerika para pekerja sosial mengadakan penelitian mendalam tentang anak-anak yang ibu mereka bekerja. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan, “The mother’s presence in the home during the day means everything to the child’s feeling of well being and security, even though she may be busy with home making tasks.” (Bahwasannya kehadiran ibu dalam rumah seharian mempunyai arti yang besar sekali untuk perasaan keamanan dan kesejahteraan anak. Walau sang Ibu pada saat bersamaan sibuk juga dengan pekerjaan rumahtangganya.”
“The trend for the mother to be out of the home is a pattern of living which has extended for thirty years in America, since the emergency of World War II took millions of women into factories. It has been during this time that we have developed some of our threatening social problems, marriage problems, divorce, violence in the streets and on campus, drug abuse, rebollion against social customs and moral standard. Many of these problems can be traced to homes of working mothers. The children fail to developed properly, or developed into mental cases or fail to find purposes or happiness from life. They turn from the ways the parents and seek new ways.”
Sungguh mengerikan. Rupanya penyalahgunaan obat-obat ataupun ganja dan morfin, konon banyak sekali bersumber dari keluarga dimana ibu tidak mempunyai waktu untuk anak-anaknya. Ini hasil penelitian di Amerika. Bagaimana dengan keadaan kita disini?
Menurut saya sih, ibu yang tidak punya waktu untuk anak-anaknya bukan hanya wanita yang punya karier di luar rumah. Ibu-ibu rumah tangga juga bisa menelantarkan anak-anaknya dengan sibuk ngegosip di tetangga, nongkrong terus-terusan di depan TV nonton shitnetron, atau mungkin juga keasyikan ngeblog
Mudah-mudahan sih saya ngga gitu…
Kemudian Dr.David V.Haws, Ketua RSJ di Phoenix mengatakan, “Mother must be returned to the home. The standard of living is a fictious thing. It is a woman’s premodial function to stay home and raise children. She should not join the hunt with men. A man, too feels less of a man when his wife works. If you don’t leave a family of decent kids behind, you have left nothing. Basic to the solution of adolescent problems of any generation is an intact home.”
Ini bukan mau menentang wanita yang bekerja di luar rumah lho. Hanya sekedar bahan perenungan bersama… Toh banyak wanita karier punya anak-anak yang berprestasi dan berakhlak baik. Tak sedikit pula ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah tapi punya anak ‘berantakan’. Ya fisik, ya mental…
Mbak, pemikiran mbak di atas bisa diperkaya dengan konsep Kyōiku mama di Jepang. Info lengkapnya ada di Wiki ya.
Sharing dikit, saya dan saudara-2 dibesarkan oleh orang tua yang bekerja semua, ada masanya karena kebutuhan ekonomi yang mendasar, orang tua terpaksa bekerja lebih dari 16 jam sehari. Itu terjadi ketika kami masih sangat kecil. Tapi alhamdulillah, keluarga kami baik-baik saja sampai saat ini. Jadi tidak selamanya Ibu yang bekerja tidak bisa menjalankan peran seorang Ibu yang baik. Terus terang saya terkesan dengan Ibu saya dan ragu apakah saya bisa seperti beliau kelak kalau saya sudah berumah tangga, tapi kalau beliau bisa mengapa saya yang telah dididiknya tidak?, dan rupanya kesan yang mendalam juga ditangkap oleh dokter langganan saya. Sampai-sampai kalau saya berkunjung ke beliau, yang pertama ditanya bukan keadaan saya, tapi Ibu saya.
Ah, satu lagi tulisan yang ‘mendukung’ pemikiran saya
Bener loh, saya juga kalau pulang ke rumah nggak menemukan sosok ibu, jadi resah… apalagi kalau pada saat ibu meninggalkan rumah, nggak ada makanan tersaji d meja makan. Huehehehe, ini sih lain motifnya
Wah saya cowok…no comment ntar dikira sok tau
oh yesss, so pasti bener n banyak beredar diantara kita dua model wanita atau ibu yang ditulis pada bagian akhir postingan inih…. benar, ini tidah lebih dari sebuah renungan (*khusus bagi wanita/ibu…?? bapak2nya ga masuk ya….*)
istri saya sudah bekerja sebelum menikah dengan saya… saya ambil alasan no 2 aja
mbak salam kenal…
tulisan tentang wanita nya ok banget…
kalau mbak ada waktu kunjungi website:
http://www.accent.co.id
semoga mbak tertarik jadi anggota disana dan bisa berbagi pemikiran mbak di blog nya…
sukses yach mbak…
Yah memang berat bagi wanita yang harus bekerja dan sekaligus menjadi Ibu Rumah Tangga. Dukungan dan kerjasama yang baik dari suami dan keluarga besar sangat menentukan dalam menjaga keharmonisan keluarga dan pendidikan anak.
Saat ini pun saya bekerja, tapi saya juga berharap tidak harus begini terus. Saya berharap suatu saat nanti bisa menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik bagi anak dan suami tapi masih tetap bisa berpenghasilan, masih tetap bisa berkembang ilmu dan pengetahuannya. Tidak dengan bekerja kantoran melainkan buka usaha sendiri, walaupun masih dalam skala kecil. Kalo ada waktu silahkan kunjungi blog saya http://0194octora.wordpress.com
sungguh…..sudah seminggu ini aq galau. pengen rasanya segera resign dari segala urusan kantor dan berpindah kerumah untuk ngurusi anak-anak. Tapi suami masih melarang dengan alasan belum tentu kalo aku dirumah anak-anak menjadi bintang kelas semua, apa aq bisa menjamin anak-2 akan menjadi sukses kalo ibunya ibu rumah tangga??? gitu tanyanya. puzing dech
waaaah, aq jadi dilematis gimana kalo nanti aq menikah????
April 16, 2008 at 5:38 pm
sepakat, mbak ratna, tapi ada tapinya loh. kalau perempuan karier bisa menjadi sosok androgini, pantas diacungi jempol tuh. sukses berkarier sekaligus mampu membangun keluarga yang harmonis.