Posted by: Ratna on: April 23, 2008
Suatu hari di sebuah rumah di pinggir hutan belantara jalan raya . Tampak sepasang suami-istri sibuk sendiri-sendiri. Sang istri yang tengah membanting-banting adonan donat memecah keheningan, “Pih, tahun ini si Buyung masuk SD lho…”
Tak ada suara dari mulut sang suami. Yang terdengar hanya bunyi sorak-sorai pertandingan Pro Evolution Soccer 6 dari dalam laptop. Sesekali terdengar suara jempol tangan suaminya si istri tadi memainkan tombol-tombol di joystick.
I (istri): “Pih, denger ngga?”
S (suami): “Hmm…” Matanya masih tidak berkedip, memelototi terus LCD di depannya.
S : “Aaaaa…hahahaha. Goooool…gooool….!!!”
I : (Membanting adonan donat dengan emosi) “Papih!! Mamih kok dicuekin terus? Ngga dihargai. Selalu dinomorduakan. Disepelekan. Ngga dianggap. Dipoligami sama mainan anak kecil kayak begitu. Sebel. Sebel.”
(Eh, maaf… Salah skenario. Kalau yang ini harusnya masuk di postingan berjudul “Cemburu Part 2″. Nantikan segera ya… *janji palsu*)
Reset dah…
I: “Pih, tahun ini si Buyung masuk SD lho…”
S: “Oh ya? Terus?” sambil ngetik-ngetik di laptop (halah, laptop lagi laptop lagi)
I: “Kalau mau sekolah murah ya cuma di SD kampung itu Pih…”
S: ” Ya udah. Kesana aja.”
I: ” Ih, emang Papih tega anak kita sekolah disana?”
S: “Lho emangnya kenapa?”
I: “Berbaur sama anak-anak kumal sering pilek dan kudisan. Terus bicaranya kebon binatang semua?”
S: “Ngga semua ah… Masih ada anak baik-baiknya…”
I: “Tapi tetap aja Mamih takut anak kita terkontaminasi kejorokan dan kata-kata kasar anak-anak badung itu.”
S: “Ya jangan dong. Malah si Buyung harus bisa kasih contoh ke teman-temannya tentang hidup sehat dan berkata-kata sopan.Be a trendsetter not a follower.”
I: “Papih itu, nggampangin aja… Jangankan anak kecil kayak si Buyung. Orang dewasa juga kalau bergaul dengan lingkungan buruk bisa ketularan.”
S: “Jadi menurut Mamih gimana?”
I: “Ya sekolah di sekolah swasta sana aja…”
S: “Hmm…”
I: “Meski mahal, Mamih percaya disana si Buyung bisa menuntut ilmu dengan jauh lebih baik.”
S: “Oh ya?”
I: “Setidaknya orangtua para murid disana adalah orang berpendidikan. Jadi tahulah bagaimana cara memperhatikan dan memberi pendidikan pada anak.”
S: “Oh ya?”
I: “Mami juga percaya, kalangan berada lebih sopan dan halus tutur katanya…”
S: “Oh ya?”
I: “Fasilitas sekolahnya lengkap. Ekstrakurikulernya banyak. Full day school, banyak plus-plusnya. Jadi Mamih ngga perlu susah-susah lagi ngajarin atau datangin guru ngaji ke rumah.”
S: “Oh ya?”
I: “Si Papih mah oh ya-oh ya aja…” *cemberut*
S: “Oh ngga deh.”
I: “Dasar!”
S: “Hehe…”
I: “Jadi gimana Pih? Masuk swasta aja ya… Kan kita mampu bayarin…”
S: “Mampu sih mampu. Tapi menurut Papih SD mah ngga perlu keren-keren amat. Lagian Papih masih percaya kurikulum Mamih buat plus-plusnya.”
I: “Mamih lagi Mamih lagi. Kerjaan dapur juga udah bejibun…”
S: “Papih naikin deh setorannya…”
I: “Tetep aja pegel-pegel”
S: “Ta’ pijitin…”
I: “Tetep aja waktunya tersita”
S: “Ta’ bantuin ngajar deh… Hari Minggu. Atau setiap pagi habis shubuh…”
I: “Uh, Papih mah. Mamih tetep takut nih nyekolahin anak di SD kampung. Swasta aja ya…”
S: “Ngga apa-apa. Biar si Buyungnya juga tau kehidupan nyata. Ngga selamanya nemu yang bersih-bersih, lemah-lembut, sopan-sopan… Menurut Papih itu justru baik buat pendidikan dasar. Tinggal tugas Mamih di rumah untuk selalu mengingatkan mana yang baik mana yang buruk.”
I: “Tugas Mamih???”
S: “Hehe…Papih juga”
I: “Tapi kalau guru-gurunya? Qualified ngga? Mamih khawatir, dengan gaji rendah kualitas mengajarnya juga rendah. Ngga seperti di swasta, gaji gurunya kan lebih besar…”
S: “Ah, Mamih sok tahu. Sama saja kok, rendah.”
I: “Oh ya?”
S: “Kalau guru mau gaji tinggi ya harus ngajar di luar negeri. Di Indonesia ngga ada kamusnya guru gajinya gede.”
I: “Oh ya?”
S: “Makanya Papih pilih SD kampung aja. Biar uang buat sekolah di SD swasta Papih tabungin buat pendidikan Buyung ke luar negeri.”
I: “Kan bisa ntar-ntar aja biaya kuliah mah. Masih lama.”
S: “Kita ngga tau apa yang terjadi besok Mih. Sedia payung aja dulu,daripada ntar basah kuyup…”
I: “Basah kuyup masuk kolam gituh…”
S: “Bukan. Basah kuyup kecemplung kuah baso…”
I: “OOT nih, mulai… Terus apa nanti si Buyung bisa bersaing sama anak-anak SD swasta unggulan yang mahal itcyuh?”
S: “Lha dulu, emang kita dari SD itcyuh? SD kampung juga kan? Tapi bisa sukses nembus SMP, SMA favorit. Lulus UMPTN pula. Shalat jalan, ngaji bisa, teman banyak…”
I: “Tapi Pih, apa kata tetangga nanti?”
S: “Hah?”
I: “Masak anak Mr.Papih di sekolahin di SD kampung? Pelit amat bapaknya… Apa sebenarnya Mr.Papih itu kere hingga cuma ngandelin dana BOS?”
S: “Oh ini rupanya… Syndrome tukang sayur ternyata.”
Jadi begitu ya percakapan pasutri yg mau nikahin nyekolahin sang anak. Suami gemas,Istri cemas. Hihi… Lucu ih teh…
Hmm, mending ya masupin aja si buyung ke SD kampung.
Bukankah sebuah guci sebelum berubah menjadi bentuknya yg sempurna dan indah dipandang mata harus melewati proses yg kasar dan penuh lika-liku?
Ttg sekolah swasta yg segala fasilitasnya serba ada, dikhawatirkan akan membuat si buyung jd malas.
Kebetulan, adik sy yg plg kecil udah mau masuk sekolah TK. Ortu sy menyekolahkannya ke TK akar rumput. He…
Kalo input bagus maka output akan bagus juga.
Kalo fasilitas sekolah serba ada ambil contoh sekolah x ada fasilitas komputer sedangkan sekolah y tidak ada fasilitas komputer berarti murid sekolah x akan menerima pelajaran komputer dan sekolah y tidak mendapatkan pelajaran komputer sehingga output dari sekolah y akan tidak mengenal komputer
Saya setuju dengan pendapat “keberhasilan pendidikan anak, diperlukan kerja sama antara guru, orangtua dan anak itu sendiri”
Jadi berdasarkan paragraf kedua diatas dengan anak yang bersekolah x (di paragraf pertama) tentu akan menghasilkan output yang lebih bagus lagi dan menjadi harapan bangsa…
Barangkali bisa menjadi pengalaman berharga. Saya kenal seseorang dan adik bungsunya, disekolahkan di sekolah yang berbeda kondisinya. Si Kakak di tempat anak-anak nakal dan biasa-biasa saja dan kumel-kumel itu, sementara adiknya di sekolah yang lebih elit.
Hasilnya, berbeda jauh mbak, adik bungsu saya cenderung lebih ‘materialistis’ karena terpengaruh sama kehidupan orang-orang yang serba berada itu. Cenderung menggampangkan masalah dan seolah-olah apapun bisa diselesaikan dengan duit. Padahal kan nggak seperti itu. Cenderung manja juga.
Sementara sang kakak lebih peduli dengan kondisi sekitar dan lebih menghargai pemberian orang tuanya. Ini karena sang kakak ketika kecilnya bergaul dengan orang-orang yang serba kekurangan dari sisi ekonomi.
salam kenal dari eko kunjungi blog ku ya
jangan lupa kunjungi situs buatannku
eko.coolpage.biz dan konseling.orgfree.com
[...] bawah ini ada tulisan Edratna tentang sekolah anak-anak Anak-anakku sekolah di SD Inpres, yang hanya 50 meter jaraknya dari [...]
Cukup membantu dan membuka wawsan dan pemikiran saya yang mau baru mau nyekolahin anak. Makasih ya tulisannya
Salam, Selamat ya atas dibukanya forum unjuk pendapat yang positif,cerdas dan kreatif. Saya menghaturkan selamat dan semoga sukses serta berkembang terus.
sayapun baru memilihkan sekolah buat anak saya yang terpenting kualitasnya dan kecocokan buat anak ybs
trims
Minta tolong informasinya kalau saya mau sekolahkan anak di sekolah yayasan khusus anak-anak nakal ada ga ya? kalau ada dimana ya? Karena anak tsb tidak mau sekolah maunya hanya main internet game on line saja. Suka berbohong, mencuri uang untuk main warnet, dll. Terima kasih.
April 24, 2008 at 2:19 am
Ratna,
Anak-anakku sekolah di SD Inpres, yang hanya 50 meter jaraknya dari rumah, padahal para tetanggaku, di kompleks rumah dinas, anak-anaknya sekolah di SD swasta yang terkenal mahal dan bagus.
Awalnya saya kuatir juga, tapi justru mereka peka terhadap masalah teman-temannya yang miskin, dan SD itu gurunya baik sekali, mau saya titipkan anak karena saya bekerja seharian. Dan anak-anakku dapat ranking di sekolah tsb…SMP juga begitu, kalau orang lain sibuk mencari sekolah unggulan dsb nya…anakku sekolah di SMP terdekat (dan baru tahu belakangan, ternyata masuk SMP ini tak mudah, karena unggulan di Jakarta Selatan).
Begitulah, sama seperti ayah ibunya dulu, kedua anakku, sejak TK (juga TK negeri lho) s/d Perguruan Tinggi, semuanya negeri.Sekarang yang sulung udah lulus dari UI, menikah dengan gadis pilihannya yang sedang ambil S2 di Amrik, dan si Bungsu masih senang kuliah di kampung gajah duduk (ambil S2, dapat beasiswa).
Jadi, sebetulnya keberhasilan pendidikan anak, diperlukan kerja sama antara guru, orangtua dan anak itu sendiri.Justru karena SD anakku sederhana, saya dan suami menyumbang buku cerita anak-anak dan membangun perpustakaan di sekolah itu, supaya teman anakku senang membaca sejak kecil. Kalau mereka main ke rumah, si mbak mesti menyediakan makan siang, penganan dan mereka bebas membaca, mencoba main organ, dan komputer di rumah.