Belanja ke Pasar

pasar.jpgPagi tadi suami request dibikinin Soto Ayam favoritnya. Kebetulan ketika di cek di warung bahan-bahannya sudah tersedia, stok bumbu instan di rumah juga masihada.Kecuali toge! Wah, makan soto tanpa toge ibarat pakai motor tanpa helm (nyambung ga sih?) Akhirnya demi sedikit toge, suami ngajak saya ke pasar yang jaraknya cuma 1 km dari rumah. Malas sih…mengingat wangi pasar tradisional yang mmmmmh… Tapi demi yayangku tersayang, hayu aja lah! Mumpung beliau libur.

Kami pergi naik motor boncengan. Anak kedua dibawa, si sulung ditinggal sendiri di rumah. Asal dikasih tontonan acara TV menarik plus makanan dan minuman yang manis-manis, bisa deh kami pergi dengan sentosa. Asal jangan kelamaan aja, begitu pesannya.

Sesampai didepan pasar, celingukan sebentar. Sudah pasti saya ga mau masuk. Meski sudah dua hari tidak turun hujan, tetap aja becek. Bisa saja dari sayuran yang tercecer terus terinjak-injak. Bisa juga dari air rendaman tahu, air bekas berenang ikan, atau sisa-sisa percakapan orang se-pasar yang ngerumpi…

Alasan lain saya ga mau masuk pasar, takut kesasar! Disana kan banyak labirinnya.

Dengan penuh keyakinan bahwa tanpa masuk ke kedalaman pasar pun saya akan mendapatkan toge, saya terus berjalan di jalan raya yang beraspal. Dimana-mana, pasar memang selalu tumpah ke jalan ya! Haduh, kerasa gedenya ini perut, bersinggungan dengan beberapa motor ojek yang parkir tidak beraturan di pinggir jalan.

Lima lapak sayuran sudah saya datangi, ternyata toge sudah habis terjual. Wah, padahal saya sudah pegal nih menotok hidung biar ga berfungsi dulu. Tapi saya kuat-kuatin hati dan selalu bilang kalau saya anak manja kalau ga sampai dapat toge. Bau sedikit udah rewel. Tapi memang sempat terpikir juga sih, apa pasar tradisional seperti ini akan berumur panjang mengingat sekarang banyak bermunculan hypermarket dimana-mana dengan harga yang mungkin sebentar lagi menyaingi pasar tradisional. Menurut saya sih dari segi harga tidak begitu berbeda jauh, mengingat fasilitas yang diberikan
juga memuaskan. Kebersihan dan kualitas produk terjaga, belanja nyaman karena tempatnya bersih, display menawan, akurasi berat produk tinggi, tidak ada penipuan harga (dengan melihat bandrol berarti deal), tidak perlu tawar-menawar harga, bisa beli produk timbangan seminimal mungkin (walau beli daging cuma 1 ons tetap dilayani tanpa muka masam si penjual), bisa sambil bawa anak-anak sambil diajari macam-macam belanjaan tanpa harus was-was kena kotoran.

Nah,ketemu juga lapak yang masih menjual toge. Tinggal dua bungkus lagi. Saya cuma beli satu bungkus, harganya seribu rupiah. Sama saja dengan harga di warung.

Akhirnya kami pulang ke rumah. Saya langsung ganti baju. Ga tau kenapa, saya kayak banyak bawa ‘oleh-oleh’ di baju. Suami saya juga bilang katanya tadi khawatir saya muntah-muntah di pasar. Hmmm…tidak sebegitunya dong, ah! Meski banyak kekurangannya, belanja di pasar tradisional saya banyak dapat pelajaran. Pelajaran untuk kunjungan kali ini, Allah Maha Adil. Saya melihat beberapa ibu pedagang, dengan tangan kotor, seenaknya saja makan tanpa mencuci tangan dulu. Sambil mencemil makanan, tangannya dipakai juga buat menerima uang dari pembeli dan mengumpulkan belanjaan. Tapi mereka kelihatan tetap sehat dan bisa berjualan tiap hari. Mungkin antibodi mereka bekerja lebih aktif dibanding kita yang selalu mencuci tangan sebelum makan. Kotor sedikit, kena mencret deh. Mereka diberi daya tahan tubuh yang lebih kuat,
mungkin juga untuk meringankan biaya kesehatan mereka.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s