Halitosis (bau mulut)

mulut.jpgBau mulut bisa menjadi masalah tersendiri dan membuat seseorang merasa kurang percaya diri. Bagaimana tidak, mulut kita merupakan salah satu gerbang masuk menuju tubuh, dan berfungsi dengan sangat aktif. Setiap hari kita tersenyum, tertawa, dan berbicara melibatkan organ ini. Bahkan, di saat puasa pun keterlibatannya sangat berperan penting.

Bau mulut memang terjadi tidak hanya di saat puasa, dalam keseharian pun keluhan ini sering kali muncul. Penyebabnya tidak hanya penyakit di dalam mulut, sesuatu penyakit yang bersarang di luar wilayah mulut bisa saja menimbulkan halitosis. Beberapa faktor yang dapat memicu halitosis antara lain karena pemeliharaan gigi yang tidak sempurna.

Kebiasaan buruk yang sering terjadi adalah jarang membersihkan gigi setelah makan. Selain itu, kondisi sikat gigi yang sudah rusak atau mekar akan mempersulit sisa makanan tersapu dari sela gigi. Sikat seperti ini menyebabkan bau akibat sisa makanan yang membusuk, juga sedikit demi sedikit mengakibatkan proses infeksi dalam rongga mulut.

Mahkota gigi serta jaringan yang berada di dalamnya yaitu jaringan syaraf, pembuluh darah kapiler, dan pembuluh getah bening, mudah terinfeksi kuman. Hal ini menyebabkan kerusakan jaringan gigi, antara lain gigi berlubang. Selain gigi geligi, kondisi gusi yang kurang sehat dapat menyebabkan halitosis. Yang sering dijumpai adalah infeksi pada gusi (gingivitis) di mana gusi menjadi merah, permukaannya tidak licin, bengkak, dan perlekatannya pada permukaan gigi menjadi kurang baik.

Faktor pemicu lain yang dapat menyebabkan bau mulut yaitu xerostomia. Kelainan ini ditandai dengan mulut menjadi kering, air liur menjadi lebih kental, dan sering merasa harus membasahi kerongkongan. Pada umumnya xerostomia terjadi pada kondisi stres, dehidrasi, usia lanjut, pemakaian radioterapi (penyinaran dengan radio aktif), dan pemakaian obat-obatan yang mengandung alkohol, serta obat-obatan antidepresan, antiasma dan antihistamin (antialergi).

Selain kelainan gigi dan gusi, adanya penyakit yang lebih serius bisa juga menyebabkan bau mulut, misalnya gangguan pencernaan, sinusitis, infeksi amandel, bahkan kanker, diabetes, bronchitis kronis, gangguan hati serta ginjal. Jika problem bau mulut ini muncul secara tiba-tiba, keluhan memburuk dalam waktu beberapa hari atau minggu, atau diiringi dengan demam, batuk, atau gejala lain, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Hal yang sering dilupakan adalah makanan. Walaupun tidak menimbulkan penyakit yang serius, makanan seperti petai, jengkol, bawang, dan buah-buahan yang menyengat seperti durian bisa menimbulkan halitosis.

Halitosis dan puasa
Rongga mulut kita yang dilengkapi kurang lebih 32 gigi geligi sebenarnya merupakan tempat subur untuk pertumbuhan kuman. Hampir 24 jam rongga mulut kita terjamah oleh makanan dan minuman. Sisa makanan bersama-sama dengan air liur dan bakteri akan memicu terjadinya endapan plak, yaitu endapan lunak transparan yang menempel pada permukaan gigi.

Suatu plak akan menjadi cikal bakal terjadinya gigi berlubang yang menjadi tong sampah sisa makanan yang menebarkan bau mulut. Namun, sebagian besar bau mulut disebabkan oleh adanya kumpulan bakteri penghasil senyawa sulfur, yaitu hydrogen sulfide dan methyl mercaptan, yang bersarang di belakang rongga mulut.Bila dikaitkan dengan puasa, terutama yang dilaksanakan sebulan penuh saat bulan Ramadan, bau mulut disebabkan oleh berkurangnya produksi air liur (saliva) karena berkurangnya rangsangan makanan yang masuk.

Bau mulut saat puasa bukan merupakan masalah karena keluhan ini normal dijumpai. Ada beberapa tips yang bisa diikuti untuk menjaga agar mulut kita tetap bersih dan nafas terasa segar.

Pertama, pemeliharaan rongga mulut. Penting sekali untuk menjaga mulut tetap bersih dengan cara menyikatnya minimal 2 kali sehari. Sekali-kali Anda juga boleh menggunakan obat kumur, tetapi disarankan jangan yang mengandung alkohol. Pemakaian obat kumur cukup membuat Anda terhindar dari bau mulut selama kurang lebih delapan jam.

Bagi pemakai kawat gigi yang dapat dilepas, sebaiknya alat tersebut dipastikan selalu dalam kondisi bersih, baik saat menyimpan maupun menggunakannya kembali.

Dalam hal makanan, dianjurkan untuk menghindari makanan yang memicu bau mulut seperti ikan, daging, produk susu, makanan pedas, bawang merah dan putih, petai, jengkol, durian dan rokok. Anda juga perlu membiasakan sarapan dan makan secara teratur supaya produksi air liur menjadi lancar, serta minum air putih minimal 2 liter atau 8 gelas setiap hari.

Sumber: dr. Dini Indrawati, dokter PNS di Kabupaten Bandung

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s