Kisah Ibrahim a.s.

kabah.jpgSaya benar-benar tidak ingat kalau sekarang sudah memasuki bulan Dzulhijjah sampai saya mendapat surat dari sekolah anak saya mengenai liburan Idul Adha. Padahal beberapa hari lalu salah satu kerabat saya ada yang pamitan naik haji. Begitu tidak ‘ngeh’nya saya. Tidak peduli atau karena terlalu sibuk rutinitas setiap hari atau apa. Yang pasti saya jadi tergugah mengingatNya kembali setelah baca blog tetangga tentang sepuluh hari terbaik yang hanya ada di bulan Dzulhijjah.

Saya jadi terpana sesaat. Ternyata tidak jadi ‘orang kantoran’ yang dibebani setumpuk beban kerja juga bisa lupa denganNya. Walau saya juga bukan ibu rumah tangga yang santai, tapi setidaknya menurut saya berada di rumah jauh lebih bisa lebih sering mengingatNya. Setiap hari lihat (dan pake, tentunya) sajadah, lihat kaligrafi di dinding, mengajar anak mengaji,…tapi semua seperti sekedar lewat saja. Seperti bis yang berhenti sebentar di halte dan kemudian pergi. Tidak ada kesannya.

Saya jadi ingin mengingat kembali masa-masa dulu, ketika masih kuliah. Pada waktu itu saya sedang giat-giatnya ‘mencari kebenaran’. Rajin ikut pengajian sana-sini. Salah satu materi di pengajian yang masih saya ingat sampai sekarang yaitu tentang kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail a.s.
Ibrahim yang mendapat petunjuk dari Allah untuk menyembelih putranya kebingungan setengah mati. Bagaimana tidak. Jangankan Ibrahim yang begitu menantikan kehadiran seorang anak sampai usianya uzur, kita saja yang begitu menikah langsung punya anak pasti akan stress berat kalau dihadapkan pada situasi demikian.

Ketika Ibrahim mempunyai kebulatan tekad untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, ia bercerita dan meminta pendapat kepada Ismail. Subhanallah, sungguh ayah dan anak yang beriman. Yang begitu percaya akan Allah. Percaya akan keputusanNya yang tidak pernah salah, percaya akan kasihsayangNya dibalik perintahNya yang ‘kejam’. Mereka sepakat melaksanakan perintah Allah yang maha berat itu. Dan memang, Allah yang Maha Rahman dan Rahim menunjukkan kekuasaanNya.

Saya tidak membayang-bayangkan (seperti saat kanak-kanak waktu pertama kali diceritakan kisah ini) bagaimana “tring!” Ismail berubah jadi domba ketika disembelih bapaknya. Tapi kepada bagaimana Ibrahim dan Ismail begitu mencintai Allah dan memiliki keimanan kuat kepada Allah. Sesuatu yang sangat jauh dari kata mudah untuk melaksanakannya.

Jadi ingat lagi dengan firmanNya (lupa surat dan ayat berapa) “Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang cobaan seperti yang menimpa orang-orang sebelum kamu?”
Hmm…sungguh hal yang perlu kita renungkan lagi. Apakah surga akan begitu mudahnya dicapai dengan ‘sekedar’ melaksanakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzina? Belum cukup saya kira. Ingin dapat gelar sarjana saja harus pontang-panting dulu sedikitnya empat tahun, dengan macam-macam bumbu (ujian tiap semester, bikin skripsi, ngeburu dosen, uang kuliah/kost tersendat…). Ingin punya rumah sendiri harus kerja ekstra, sampingan or lembur, biar dapat uang cukup untuk DP. Apalagi dapat surga yang indahnya saja tidak pernah terbayangkan. Perlu pengorbanan yang jauh lebih besar.
Kalau menurut saya, indikator pengorbanan untuk dapat surga itu ya dapat cobaan yang setara dengan yang didapat oleh para nabi dan orang-orang beriman yang diceritakan dalam Al Qur’an. Bukan harus idem berperang di tengah gurun yang panas. Mungkin lebih kepada seperti mendapat tekanan-tekanan negatif dari dalam diri dan lingkungan juga bagaimana menyikapi beragam handycap yang menyertainya. Baru sampai situ saja yang bisa saya renungkan.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Kisah Ibrahim a.s.

  1. wah jadi ngingetin masa lalu. banyak hikmah dan faeadah yang bisa dipetik.. let’s get spirit of ibrahim. . salam kenal. tks bgt

  2. rahmanhadiq

    artikel kupas tuntas keterangan Bible dan Al Qur’an tentang Ibrahin dan abraham silahkan baca di ;

    sedangkan koreksi al qur’an ttg kisah abraham ;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s