PRT, perlu atau tidak

Kemarin saya menelpon seorang sahabat di luar kota. Sekedar melepas kangen. Tapi sahabat saya itu langsung minta maaf ga bisa menerima telpon saya saat itu dan berjanji malamnya dia telpon balik saya. Namun baru besoknya (tadi) pagi-pagi sekali dia baru telpon saya dan bilang kalau minggu ini lagi repot banget karena pembantunya pulang kampung. So telpon saya kemarin di reject.
Baca selanjutnya…

Asyiknya menikah muda…

teddy-wedding.gifUsia muda itu sebenarnya berapa, relatif memang. Bisa berarti usia remaja (teen), bisa berarti usia subur (15-49 tahun), bisa berarti usia produktif (15-45 tahun), bisa berapa saja tergantung usia orang yang mengatakan. Kakek saya yang berusia 80 tahun tentu bilang paman saya yang berumur 48 tahun adalah usia muda.

Boleh-boleh saja. Tapi saya ikut kebanyakan persepsi orang-orang jaman sekarang saja deh ya. Maksudnya usia baru menginjak 20. Usia ketika orang pertama kali disebut sebagai orang dewasa. Bukan remaja atau ABG lagi.

Mengapa saya bilang menikah muda itu enak? Karena pengalaman sendiri dong, ah. Saya banyak sekali merasakan keuntungan menikah di usia muda (saya 22 tahun, suami 23 tahun). Meski awalnya mengundang kontroversi dan su’udzon di keluarga besar, tapi akhirnya banyak juga yang meniru langkah kami.

Usia 20-an adalah usia yang saya rasa full of energy. Baik dari semangat maupun tenaga. Maka tidak heran apabila kalangan medis menyebutkan bahwa usia terbaik untuk bereproduksi adalah pada usia 20-an. Pada usia ini, kemungkinan melahirkan anak yang sehat dan normal adalah paling besar. Diluar usia ini, kemungkinan anak lahir cacat, keguguran, dlsb lebih tinggi. Selain itu, kondisi ibu berada pada usia yang paling prima untuk hamil dan melahirkan. Sehingga berbagai macam komplikasi yang terjadi selama kehamilan maupun persalinan bisa diminimalkan.

Selain itu, dari sisi motivasi hidup, bekerja dan meraih prestasi berada pada level paling atas. Mungkin karena pada usia ini persoalan hidup dan tingkat stress belum begitu terakumulasi. Hingga apapun yang dilakukan, bebannya akan dirasa lebih ringan karena belum terlalu terkontaminasi masalah lain.

Menikah muda memang bukan tanpa masalah. Apalagi kalau bukan karena ego masing-masing yang masih tinggi. Emosi yang masih meledak-ledak, yang kadangkala merusak pikiran jernih dan akal sehat. Usia yang sering over ekspresi. Namun jika fase-fase itu telah terlewati, dan kedua belah pihak terus berusaha memperbaiki diri dengan tetap berpegang teguh pada komitmen, Insya Allah “Setelah kesulitan itu akan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah)

Rata-rata teman-teman wanita saya menikah diatas usia 28. Teman laki-laki kebanyakan masih lajang hingga usia 30-an. Mereka beralasan ingin mengejar karier dulu. Biar pas menikah sudah punya rumah dan mobil sendiri. Ngga usah malu ikut numpang hidup dulu di mertua atau harus pusing cari kontrakan rumah. Ada juga yang kepingin santai menikmati masa muda (dan juga gaji) tanpa direcoki masalah keluarga.
Sah-sah saja. Semua punya pilihan masing-masing.
Namun saya ingin menggaris bawahi bahwa masa muda itu tidak akan datang dua kali. Sayang kalau masa reproduksi terbaik dilewatkan begitu saja gara-gara hal yang tidak begitu prinsipil.
Di usia baru menginjak 30, saya dan suami sudah akan mempunyai 3 anak. Itu sangat saving energy untuk usia tua kami. Banyak saya lihat, ‘para jompo’ masih bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih usia sekolah. Masih pontang-panting memikirkan anak yang belum selesai pendidikannya. Masa tua yang idealnya tinggal bersenang-senang mengasuh cucu dan melihat dengan bangga anak-anaknya yang telah mempunyai karier mapan.

Saya juga merasa, dengan menikah, usia muda saya lebih banyak diselamatkan. Selamat dari penghamburan waktu dan uang. Yang biasanya dilakukan lajang-lajang ketika week-end. Kalau sudah berkeluarga kan mikir dua kali. Lebih baik spent money and time with family sajah…jauh lebih bermanfaat dan lebih bertanggung jawab. Selamat dari syahwat yang tidak halal. Ini dia. Dengan menikah, pahala justru banyak dipanen dari sini.

Selain itu, dengan hadirnya anak-anak, banyak sekali hikmah yang didapat. Kesabaran lebih terasah, motivasi untuk mencari ilmu lebih tinggi, lebih punya rasa tanggung jawab, dan masih banyak lainnya. Saya yakin, hal-hal tersebut tidak akan didapat kalau saya masih lajang.

pacaran aman

liontin.jpgBagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.

Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.

Saya katakan suatu program karena ada tujuannya: menikah. Terstruktur, karena berisi tahapan sistematis. Dari mulai perkenalan dengan calon pasangan, lingkungannya, kebiasaannya, cara berkomunikasi, sampai visi-misi.

Mengapa saya ambil judul “Pacaran Aman”? Sebab saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).

Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai pacaran aman. Ciiee 😀

Seorang laki-laki yang sama sekali tak terpikirkan tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.

Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu jadi imam saya dan bebas rokok) memang terpenuhi.

Hari pertama ‘pacaran’, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan merupakan barang sangat mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.

Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (eh maaf, kok malah jadi curhat gini sih!)

Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong… 🙂

Pribadi Mem(p)esona

Note: Huruf P pada judul saya beri kandang. Sebab menurut kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar adalah “memesona”, sama seperti huruf P yang luruh pada kata “memukul”, “mematung”, dan “memikirkan”. Hanya saja kata “memesona” masih kurang “mem(p)esona” dibaca atau didengar dibanding kata “mempesona”.

Ibu saya punya koleksi buku yang cukup banyak. Salah satu diantaranya ada buku yang bikin saya terpesona. Judulnya “Pribadi Mempesona”, buah karya La Rose. Ketika itu La Rose masih berusia sekitar 50 tahun. (Sekarang beliau dimana ya?)rose-fond.jpg

Buku ini ibu saya beli pada tanggal 24 September 1989. Sekarang keadaan kertasnya sudah berwarna kuning, dengan cover yang ujung-ujungnya sudah pada kriwil.

Sudah dua kali saya khatam membaca buku ini. Dan sekarang pun masih sering baca secui-cuil, sekedar penyegaran ingatan. Entah karena saya terobsesi ingin jadi pribadi mempesona atau memang pada dasarnya buku ini memang enak dibaca…

Ini salah satu cuplikan yang bikin saya terpesona:
Sesungguhnya setiap orang adalah pribadi yang mempesona. Setiap orang punya pesona dalam dirinya sendiri. Pesonanya adalah cahaya mutiara kepribadiannya.

Akan tetapi, banyak orang tak sadar akan pesona pribadinya yang tak memancar. Seperti mutiara, ia terpendam dalam lumpur kehidupan yang bernama kesibukan sehari-hari, ketakpedulian pada lingkungan, juga ketakpedulian pada kekasihnya, juga ketakpedulian pada dirinya sendiri.
Atau seperti mutiara, ia lupa mengasah dirinya, hingga pesonanya tak sempat memancar. Atau hanya pudar.

Seseorang yang mempesonakan, apakah ia lelaki atau perempuan, adalah seseorang yang berbahagia. Oleh karenanya ia dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain dan lingkungannya. Ia memberikan kebahagiaan pada sanak keluarga, mereka yang bekerja untuknya, atau untuk orang lain tempat ia bekerja.

Suami Bukanlah Nabi

Seorang teman wanita saya menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya.

Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (dan suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ’80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini.

Si Bapak menyebutkan bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. Entah itu dalam bentuk fantasi maupun selingkuh beneran. Ia mengatakan bahwa itu adalah ‘kenakalan’ biasa yang bisa reda dengan sendirinya.

Kaum istri tidak perlu gundah-gulana apalagi stress sampai setengah gila. Yang penting suami tetap sayang kepada keluarga. Tanggung jawab menafkahi lahir-batin. Tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah. Tetap menomorsatukan keluarga. Lain halnya kalau sampai meninggalkan keluarga.

Soal selingkuh, itu mainan wajar bagi laki-laki. Dan suami juga akan menghargai istrinya yang mengerti akan salah satu ‘kebutuhan’ khas lelaki ini. Katanya.

Entahlah. Terlepas dari ‘opini rasional’ ala si Bapak, yang pasti saya akan 3C (Cemburu, Crying, Cak-mencak tak ye…) kalau suami saya ketahuan selingkuh. Bukan tidak mungkin malah berkembang jadi 4C (3C+ Cerai) Hiii…..
Tuhan saja yang Maha Kuat dan Maha Segalanya paling marah kalau diduakan. Dosa paling besar kalau ada yang syirik kepadaNya. Qul huwallaahu ahad! Apalagi saya yang hanya seorang perempuan…

Andai Aku Disana…

tahunbaru.jpg

Berdesing… dan kemudian pecah di angkasa menjadi manik-manik api yang menakjubkan.
Aneka warna dan suara memecah malam yang seharusnya hening memeluk lelap.
Gempita menyeruak senyap.
Indah sesaat yang sayang untuk dilewatkan meski hanya dengan kedipan mata.
Setelah itu…
Kembali kelam.
Sekelam ramalan banyak cenayang terhadap 2008.
Let’s make a wish in our New Tear Year.

3 Milyar Rupiah Dalam Semalam

hujan-duit.jpgSambil makan siang tadi saya nyalain TV. Infotainmen. Selain lagi musimnya berkaleidoskop 2007 dan ramal-meramal peristiwa yang akan terjadi di 2008, kabar pas pergantian tahun juga tidak kalah seru.

Contohnya Ahmad Dhani beserta Republik Cintanya dan 3 Diva yang masing-masing dapat bayaran manggung di malam Tahun Baru sebesar 3 milyar rupiah. Weleh-weleh… bukan hujan duit lagi kale, tapi badai duit (bagi saya, mungkin sudah biasa bagi mereka, red.)

Langsung deh bikin saya mengkhayal…andai….ai…ai…ai…yang dapet duitnya mau dipake apa ya?

  1. Keluarin dulu zakatnya.
  2. Sisihkan buat sekolah spesialis suami.
  3. Upgrade asuransi pendidikan anak-anak.
  4. Lunasi cicilan rumah n mobil.

Sisanya…

  1. Beliin hadiah yang bermanfaat buat ortu dan mertua dan nenek semata wayang.
  2. Upgrade isi rumah.
  3. Investasi emas batangan (nurut kata Safir Senduk).
  4. Beli Sauna 3 in 1 🙂
  5. Nah…baru tabungin. Di celengan…kan tinggal receh.

Namanya juga mengkhayal…