Suami Bukanlah Nabi

Seorang teman wanita saya menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya.

Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (dan suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ’80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini.

Si Bapak menyebutkan bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. Entah itu dalam bentuk fantasi maupun selingkuh beneran. Ia mengatakan bahwa itu adalah ‘kenakalan’ biasa yang bisa reda dengan sendirinya.

Kaum istri tidak perlu gundah-gulana apalagi stress sampai setengah gila. Yang penting suami tetap sayang kepada keluarga. Tanggung jawab menafkahi lahir-batin. Tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah. Tetap menomorsatukan keluarga. Lain halnya kalau sampai meninggalkan keluarga.

Soal selingkuh, itu mainan wajar bagi laki-laki. Dan suami juga akan menghargai istrinya yang mengerti akan salah satu ‘kebutuhan’ khas lelaki ini. Katanya.

Entahlah. Terlepas dari ‘opini rasional’ ala si Bapak, yang pasti saya akan 3C (Cemburu, Crying, Cak-mencak tak ye…) kalau suami saya ketahuan selingkuh. Bukan tidak mungkin malah berkembang jadi 4C (3C+ Cerai) Hiii…..
Tuhan saja yang Maha Kuat dan Maha Segalanya paling marah kalau diduakan. Dosa paling besar kalau ada yang syirik kepadaNya. Qul huwallaahu ahad! Apalagi saya yang hanya seorang perempuan…

20 Comments

Filed under Celoteh, Curhat, Renungan

20 responses to “Suami Bukanlah Nabi

  1. dats raight, …
    lam kenal

    Rightnya yang mana Mas? Pemikiran logis si Bapak, apa perasaan ’emosional’ saya?

  2. sungai

    wah, apakah semua lelaki (suami) seperti itu? sangat pantas direnungkan…

    Anda sendiri bagaimana?

  3. Damairi Usman

    Suami bukanlah nabi tapi juga bukan iblis hehehe!
    Salut deh, moga2 sehat lahir batin. Eh emangnya lebaran hehehehe

    Jadi?
    Kalau merujuk kepada kebiasaan kaum lelaki, umumnya mereka langsung mengatakan: aku hanya manusia biasa. Jadi terima aku apa adanya. Heheh… *senyum seperti iblis*

  4. Wkakakkk…*ngakak*
    Sorry aq ktawa karna baca kalimt “cak mencak tak ye…”
    Hmm…*merenung*
    Jd ingat kisah Abu Nawas sa’at menjamu tamu dlm pernikahannya. Kue yg disuguhkan aneka warna dan bentuk (pdhl sama nama, dan rasa-nya). Intinya beda penampilan dan rupa, tp…..tetap sama (katanya)

    Kelanjutannya…? *o-on nih…*

  5. saya bukan tipe lelaki yang suka selingkuh loh mbak, kecuali kalok kepepet, halah* bercanda loh*
    saya kira bener pendapat mbak ratna. naluri purba lelaki emang suka iseng kayak getuh. tapi bagi saya kok ndak etis yak, selain tidak senapas dengan ajaran agama.
    BTW, linknya saya lihat kok masih blog yang lama ya mbak?

    Kalau ‘iseng kayak getuh’ masih etis ngga?
    Oh ya…saya update deh linknya…

  6. Nabi rasanya dah ditutup ya ngak? Kita ngikuti nabi aja ya.

    Memang sudah pamungkas nabi itu Pak. Ikuti yang mananya Pak, poligami? Ngga akan bisa… kan suami bukanlah nabi. Ngga akan bisa adil…ngga akan sempurna.

  7. Meskipun saya laki-laki, saya tidak setuju dengan pendapat bapak itu, jelas sekali bahwa itu namanya penindasan, yang menganggap wanita hanya sebagai objek padahal, dia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang unik,bisa melengkapi kekeurangan laki-laki dan perlu di sayang

    Betul.Setuju. Pertahankan prinsipnya sampai akhir hayat ya!

  8. Saya lebih parah, saat baru menikah ada keluarga dekat suami yang mengatakan mirip dengan bapak tadi. Bahwa suami harus dijunjung tinggi, kalau pulang malam harus diterima dengan baik, biarkan pergi dengan wanita lain, yang penting balik kerumah.

    Memang beberapa kasus ada beberapa suami yang menjadi sangat ‘adore n respect’ kepada istrinya karena istri yang tunduk-patuh seperti itu. Tapi ada juga yang malah ngelunjak.

    Tahu nggak reaksiku (yang membuat hubunganku dengan beliau tak pernah dekat)

    “Wah…lha saya mau menikah itu untuk hidup lebih bahagia, mempunyai keturunan, karena saya jauh sebelum menikah sudah bekerja. Yang harus pulang malam kan bukan hanya suami, sayapun kadang terpaksa lembur, sepanjang pulang malam untuk bekerja, dan kepentingan keluarga, tentu saya sambut baik. Nahh kalau selingkuh, berarti saya memilih laki-laki yang salah, yang membuat saya tak bahagia…dan untuk apa dipertahankan. Dan saya mohon, bapak tak perlu lagi ngomong aneh-aneh….”

    Beliau langsung pulang, pas suami saya tanya dan saya ceritakan yang sebenarnya, dia malah ngakak…”syukurin, katanya. Biar kapok, dan tak ngomong seenaknya.
    (Maklum saat itu saya masih muda, jadi ya gampang meledak…hehehe)

    Untung kita ketemu setelah ibu ‘agak tidak muda’ lagi ya? hehe… jadi saya tidak kena ledakannya.

  9. ass..met pagi mbak ratna…

    pagi2 qu dh nongol ne,maklum kwalitas jaringanya paling bagus ya kalo pagi gini..kalo malem lemot tenan je..
    ngomong2 masalah selingkuhan saya belum pernah tu,lawong punya istri aja belom kq…tapi kalo yang suamiku bukan nabi aku setuju banget cz jaman sekarang dah gak ada nabi lagi,kalopun ada tu cuma ngaku1 we.. :p..

  10. Wanita itu inginnya jadi istri yang utama (tidak diduakan) tapi kalau jadi posisi istri kedua pada mau ya?

    Asal suaminya kaya raya, harta ngga habis di tujuh puluh turunan, pejabat, ganteng, istri pertamanya udah ditendang… *sadis bin matre…*

  11. Lelaki memang cenderung poligami. Lingkunganlah yang membentuk pola pikir, apakah selingkuh itu baik atau tidak. Untuk orang2 yang besar dilingkungan penuh kasih sayang, dihargai dan dilindungi biasanya cenderung monogami. Karena mereka menghargai nilai2 kesetiaan.
    Berarti ngga salah ya cari bibit,bebet,bobot itu…

    Jadi .. benar kata ibu Edratna .. bahwa jika suami selingkuh, berarti nikah dengan lelaki yang salah.

    Tapi suami yang selingkuh, biasanya yang bilang:saya salah pilih istri jadi selingkuh. Huh,kejam!

  12. mbak ratna, ditunggu posting selanjutnya..kalo ngomongin masalah perselingkuhan suami istri qu belum nyambung hehehe…eh mungkin mbak ratna bisa posting tips buat kaum istri supaya suminya gak mau and gak mampu selinkuh hehe

    whalah…kayak sama pakar aja.tapi tantangan juga nih…insyaAllah saya cari referensi dulu yak!hehe…
    btw,kok interest masalah selingkuh sih? ada niat ya? *mata terpicing, curiga*

  13. Ass, Tulisan yang bagus mba…saya hanya bisa bilang kalaupun mampu untuk adil dalam harta apakah mampu adil dalam hal cinta dan kasig sayang? Saya rasa semua lelaki tak mampu tuk menjawabnya. Nabi bukan berpoligami demi nafsu tetapi demi memerdekakan kaum wanita yang tertindas dan lemah yang tak dilihat dari cantik,mulus dan bahenol nggak sang wanitanya…kalau kaum lelaki sekarang mana mau menikahi wanita yang beranak banyak berwajah jelek atau biasa saja dan atau yang berbody bulat dan buntal? so…? Hehehe mba maaf kepanjangan komentnya tapi asik suer postingannya is nice…buat lagi mba yang seru yah…Wassalam.

  14. Ikhlas, al-Ikhlas teh bersih, suci, tak terkontaminasi, tak terkotori. Esa yang satu. Satu yang tak berdua, bertiga. Begitulah kita ikhlas menerima zat yang satu. Tidak dikotori oleh apa pun, termasuk oleh nafsu kita. Ikhlas pula menerima ajaran-Nya. Menduakan itu ibarat semut hitam berada di malam gulita, di tampat yang hitam. Sukar kita menangkap realitasnya. Begitulah kita, terkadang nafsu mengotori penerimaan akan zatnya. “Allah marah bila duakan, dan cemburu pada mereka yang mengikuti nafsunya”

  15. Mbak Ratna,
    Walau rumah tangga dilandasi rasa saling cinta (yang mendalam) akan tetapi tidak dibarengi dengan sikap beragama (yang benar) maka perselingkuhan itu bukan mustahil akan terjadi.
    Tapi Mbak Paling tidak rasa cinta itu akan membuat rasa bersalah kalau dia selingkuh dan yang pasti kemungkinan kecil sekali suami berselingkuh kalau beragama.
    Kepercayaan seorang istri akan membuat kesetiaan suami (bagi suami istri yang saling mencintai tentunya)

  16. Dengan menikah, kita telah merelakan diri dan bersiap lahir batin untuk saling berkhidmat satu sama lain dalam usaha meneladani Rasulullah SAW dalam upaya menggapai ridho Allah SWT [yg tentu perjalanan itu akan banyak menemui ujian-ujian dan tantangan]. Dan semulia-mulia sebuah pernikahan adalah ditujukan untuk cita-cita agar kelak nilai-nilai agama [Islam] terus hidup dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat hingga lestari ke anak cucu sehingga rasa cinta masing-masing orang terhadap amal dan nilai-nilai agama [Islam] tidak terkikis meski dihantam gelombang dan gejolak perubahan zaman. Tentu semuanya dilakukan dengan kesungguhan ikhtiar, do’a lalu sepenuhnya bertawakal kepada Allah SWT, yang tanpa ijin-Nya segala sesuatu tidak akan bisa berlaku🙂

    Mohon maaf, Sekedar sharing pendapat🙂

    Wassalamu’alaikum

  17. @ fira
    Dari awal berpoligami saja saya rasa sudah berlaku kurang adil. Istri kedua dibikin senang (dengan dinikahi), istri pertama dibikin sedih (punya madu). Seikhlas-ikhlasnya istri pertama dimadu, ngga mungkin luput menyimpan luka…

    @ Hasan
    Ya…apalagi kita yang diduakan.

    @ hadi arr
    menenangkan sekali….

    @ Fakhrurrozy
    Betul. Pasti indah dan mulia sekali keluarga yang dibangun atas dasar ‘menggapai ridho Allah’. Menurut pikiran saya yang terbatas ini, Insya Allah tidak akan terjadi perselingkuhan (atau bahkan poligami) jika nilai-nilai ini dilakukan secara konsekuen.

  18. Ass.Wr.Wb.

    Kalau menurut hemat saya salah satu untuk menghindari perselingkuhan anatara pasangan suami istri adalah,bisa juga dengan menikah secara POLIGAMI,ini adalah solusi yg tepat,halal,dan diperbolehkan oleh agama kita (Islam),sebab dari pada tidak poligami,tapi malah punya istri simpanan,dan tidak dinikahi,itu malah sangat gak bermoral dan menerjang syari’at agama Islam,asal juga hal tsb dibarengi nita baik,ikhlas dan luhur,dan bertanggung jawab.
    Memang seolah2 hal ini masih tabu di negara kita (Indonesia),tapi yg sering terjadi di negara kita,krn menghindari nikah poligami..dan istrinya gak mengizinkan untuk menikahi poligami,ya akhirnya suami punya istri simpanan yg gak dinikahi,partanyaannya,apakah hal seperti itu lebih baik? dan lebih halal? dan yg paling parah ,apakah itu gak berdosa ? coba renungkan para pembaca…memang ini dalah berat…tapi itu adalah kenyataa yg terjadi di dunia ini…maka kita hendakanya bisa mengambilhikmahnya…dan bisa memilih di antara masalah yg KURANG BAIK…TAPI YANG PALING BAIK KITA LAKUKAN…sebab kaidah ini juga ada di dalam ushul fiqih…apalagi hal tsb,(nikah poligami)udah jelas2 klo dipbnarkan oleh agama..dan jelas halal…

    WALLOHU A’LAM BISHOWAB..

    Wass.Wr.Wb.

    MUSTRYD-2008
    Indonesia Embassy
    RIYADH SAUDI ARABIA

  19. lo menurut saiya, bapak selingkuh wajar,,,,, c0z lo ibunya juga selingkuh kan mu g5na lg? hyo…………………….

  20. ya bukane begitu cuman kan saya baru baca jd baru bisa kasih koment….. emang gak boleh??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s