pacaran aman

liontin.jpgBagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.

Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.

Saya katakan suatu program karena ada tujuannya: menikah. Terstruktur, karena berisi tahapan sistematis. Dari mulai perkenalan dengan calon pasangan, lingkungannya, kebiasaannya, cara berkomunikasi, sampai visi-misi.

Mengapa saya ambil judul “Pacaran Aman”? Sebab saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).

Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai pacaran aman. Ciiee 😀

Seorang laki-laki yang sama sekali tak terpikirkan tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.

Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu jadi imam saya dan bebas rokok) memang terpenuhi.

Hari pertama ‘pacaran’, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan merupakan barang sangat mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.

Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (eh maaf, kok malah jadi curhat gini sih!)

Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong… 🙂

Advertisements

33 thoughts on “pacaran aman

  1. kayaknya pacaran model anak2 muda sekarang bukan lagi nyrempet bahaya, Mbak Ratna, tetapi bener2 sudah bahaya. lihat saja mereka bisa demikian menikmati pacaran di tengah2 keramaian yang dulu termasuk pantang dilakukan anak muda seusiaku pada masa2 masih muda. di keramaian saja kayak begitu *halah* apalagi berduaam di tempat sepi!

  2. Jelas dan tegas : kalo loe pacarin gue berarti loe pengen menikahiku. Tidak ada opsi lain.

    Ketegasan ini pasti bersumber dari kekuatan rasio. Tentu sangat menarik kalau ada yang menunjukkan contoh bagaimana akal sehat sudah dimenangkan daripada hati, sejak kencan peratama. Soalnya sulit kan?

    salam kenal mbak Ratna
    senang menemukan blog ini,
    pemiliknya open minded banget, kayaknya.

    RM
    http://ayomerdeka.wordpress.com/

  3. Wah.. wah! Patut diacungkan 2 jempol gaya pacarannya. Bener-bener steril, he.. secara pribadi saya sungguh kagum. Mudah2an tulisan mba ini bisa jadi inspirasi juga buat yang lagi kasmaran agar bisa meniru gaya mba berpacaran. Steril tapi tetap romantis. Siapa bilang sayang-sayangan mesti gelap-gelapan begitu kan mba? He..

  4. saya mungkin tergolong konvensional, tapi saya anti sama pacaran yg istilahnya nyerempet bahaya gitu.. berhubung lelaki yg beres tinggal sedikit, mendingan ngejomblo deh.. hehe…

  5. kisah pacaran mbak ratna hampir mirip dengan kisah pacaran saya dengan sang mantan…

    kenalan lewat buku..

    hihihi… 😉

    tapi,, kita hubungannya nggak sempurna … banyak colek2an..

    *malu*

  6. wah……….pacaran gaya teteh patut kita titu tuch….
    tapi kayanya teteh poenya seseorang selain suami teteh ya….?
    bener nggak tuch…?
    saya sich liat dari muka teteh kayanya teteh poenya salah sama seseorang dimasa lalu…
    tapi teh jgn dianggap omongan saya…
    saya cuma merasakan aja….auranya….
    he.he.he…..

  7. Ha ha pacaran menurut saya bagus bagi yang membutuhkan, kalau saya sih pacaram ama isteri —bebas merdeka he he. Satu hal, jangan nyerempet-nyerempet. Sebagai orang yang telah nikah, kita wajib memberi pengertian kepada siapa saja yang bisa dijangkau, terutama yang muda-muda. Kira-kira begitu.

  8. Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya,

    Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger…

    fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album…ada chatnya juga loh 🙂
    Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an 🙂 rame buanget loohh aktifitasnya!!

    Cepetan gabung ya 🙂
    di sini alamatnya :

    Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda –
    PenulisIndonesia.com

  9. Hello Ratna…
    Wah..wah, ceritanya jadi ingat nostalgia dulu. Mirip2 sih. Semoga anak2 kita kelak bisa mengikuti jejak kita, yang nggak kebablasan seperti zaman yang mulai edan ini yach Rat???

    Oya Ratna…saya suka tulisa2nya..asyik punya oi !!!
    Saya link ke blog-ku yach ??? Semoga berkenan !!!

    Salam sukses selalu buat Ratna !!!

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  10. @ realylife
    Saya udah baca. Komennya disana aja ya!

    @ Robert Manurung
    Idealnya memang begitu. Namun susah kayaknya menemukan pasangan yang keduanya rasional dan berpikir jernih.

    @ nirwan
    🙂

    @ undercover
    Ngga empat skalian jempolnya, Mas?

    @ Ima Taher
    Lebih baik bersabar sedikit untuk mendapatkan yang terbaik.

    @ GiE
    Saya juga dulu banyak colek-colekannya… Tapi ke buku…pas pindah halaman…

    @ Rony Setiawan
    Waduh, masa lalu saya bukan satu saja, dua…tiga…empat…berapa ya? Hehe…
    Tapi jujur, saat ini saya cuma punya suami semata wayang di hati saya.

    @ Ersis W. Abbas
    Ya, betul. Pacaran lebih baik dilakukan setelah menikah. Merdeka…berpahala lagi.

    @ Penulis Indonesia
    Makasih infonya…

    @ elindasari
    Semoga gaya pacaran bablas semakin berkurang dari waktu ke waktu. Makasih, saya link juga blogmu ya!

    @ Rayyan Sugangga
    Masih banyak gadis baik-baik yang berharap lelaki baik-baik. Contohnya Ima Taher… (MODE MAK COMBLANG ON)

    @ masmawan
    Kalau aman sih sudah pasti. Kalau nyaman… mmm… kurang ekspresif aja kali ya. Makanya setelah menikah jadi over ekspresi… 🙂

  11. Pingback: pacaran aman « Pacaran Islami

  12. Salut dengan model pacarannya yang ditulis di atas. Dalam membina rumah tangga menurut saya yang terpenting adalah komitmen dari dua belah pihak bukan hanya kata “cinta” yang mudah sekali luntur

  13. @ GiE
    kira-kira yang di sensornya apa yaa? Syukur deh udah tobat…

    @ M Shodiq Mustika
    Ngga… Silakan…

    @ Rezki
    Betul. Komitmen yang terjaga malah akan melahirkan banyak cinta. Bukan sebaliknya.

  14. waduh… jarang ada nih yg model spt ini sekarang. Perlu jadi panutan anak muda. termasuk sayah. Dari pengalaman saya, dibutuhkan kominmen kedua belah pihak untuk ‘pacaran aman’, sebab kegagalan ‘pacaran aman’ byak terjadi karena ada pihak yang melanggar kesepakatan entah dari cowoknya atau sebaliknya. Yg paling harus menahan sih si cewek, supaya jgn kegenitan. huhuhuhuhu 😀

  15. @ Resi Bismo
    Sepertinya anda ‘luluh’ ya kalau digenitin, hehe…

    @ Gyl
    Kalau udah ktemu yang klop di hati dan akal, mengapa tidak?

    @ erie
    Dimana ya?

    @ extremusmilitis

    Itu dia…kadang niat sering terganggu dengan kesempatan yang membentang…

  16. Pingback: Menikah tanpa cinta?? « Ratna’s Blog

  17. @ kaudanaku
    Kalau saya molor sebegitu lama karena terhalang restu orangtua yang mengharuskan kami selesai kuliah dulu…

    @ killbill
    ‘kesitu’ itu ke penghulu yak? 🙂

  18. @ killbill1
    Apa yang Anda bayangkan dan rasakan? Kasih tau dong… 🙂

    @ Rizki on benbego
    Betul. Laki-laki baik untuk wanita baik-baik. Laki-laki pezina untuk wanita pezina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s