Porno vs Ngeblog

Mohon maaf kalau tulisan saya kali ini agak vulgar.

Waktu beres-beres CD tadi malam, saya nemu CDRW tak berjudul. Saya yakin bukan milik saya atau suami apalagi anak-anak. Karena kami selalu memberi judul pada CD yang sudah diburn. Setelah diingat-ingat, ternyata dulu saya yang menyimpannya. CD itu milik Mas J**o, tukang servis komputer, yang ketinggalan di dalam DVD rom waktu CPU saya sedang diperbaiki.

Iseng-iseng saya buka CDnya. Siapa tau… Eh, benar dugaan saya. Diantara lima folder yang ada, satu diantaranya berisi ratusan foto porno. Huh, dasar. Selalu saja.

“Kenapa sih foto-foto begituan pake disimpan-simpan segala? Kan sekali ngeliat juga pasti nempel di kepala? Jijay, fiktor, ngga bermutu, dosa, kampungan…wek-wek-wek…”

Itu omelan saya kepada sepupu setelah saya explore komputer miliknya. Waktu diomelin begini, dia cuma balas datar: “It’s just a men’s stuff…” Hrmph! Continue reading

Saya juga nonton Ayat Ayat Cinta lho!

Dari dulu saya memang bukan moviemania. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali saya nonton di bioskop. Itupun karena diajak orang, alias dibayarin.
Saya juga tidak pernah penasaran dengan film selaris apapun. Termasuk film Ayat Ayat Cinta yang saat ini begitu laku ditonton (sampai 3juta penonton katanyah…) Termasuk oleh Wapres dan mantan Presiden RI. Lagi pula hare gene mau ke bioskop…orok merah saya mau dikemanain?

Tapi saya ngga menolak ketika suami bawa oleh-oleh film tersebut. Apalagi filmnya bukan VCD bajakan seperti biasanya :mrgreen: Meski tetap curang juga sih…ngopi ke file. Aseklah, jadinya saya bisa nonton midnight pake layar 4 inci.

Awal nonton saya sudah merasa bosan. Dan hampir-hampir dimatikan (karena ngantuk juga sih). Jenis film begini ‘bukan gue banget‘. Saya sukanya film komedi dan film action. Saya ngga suka film yang banyak ngobrol seriusnya. Apalagi yang temanya berat dan bikin otak harus ikutan mikir jalan cerita. Ditambah lagi ngga happy ending. Huah. Habis nonton bukannya terhibur, malah bete seharian mikirin tontonan yang su’ul khotimah.

Saya ikut-ikutan ngepost Ayat Ayat Cinta bukan mau menilai bagus atau tidaknya film ini. Jujur, saya ngga tau standar film bagus itu seperti apa. Yang pasti saya surdendam karena film ini sudah berhasil bikin saya menangis. Karena ngga persiapan tisu sebelumnya, bantal dan seprai jadi basah kuyup buat ngelap air mata dan air hidung.

Setidaknya ada dua adegan dimana tangis saya membadai. Satu, adegan saat di dalam penjara. Ketika teman satu sel Fahri mengingatkan Fahri akan kisah Nabi Yusuf AS. Menyentuh sekali. Dua, adegan saat pernikahan Fahri dengan Maria di rumah sakit yang disaksikan Aisha. Sebel banget. Soalnya saya jadi ngebayangin kalau saya jadi Aisha. Hii…ngga deh! Jangan sampai!

Selain adegan-adegan yang memilukan, ada juga adegan favorit saya. Itu, yang di kereta api. Awal Fahri ketemu Aisha. Pada saat dua wanita Amerika dilarang mendapat tempat duduk dari siapapun oleh seorang muslim fanatik. Dakwah disitu top banget!!

O,ya. Sebelum nonton film ini saya sudah punya bayangan sendiri tentang bagaimana sosok Fahri yang sampai digilai empat wanita. Setelah menonton, rusak deh bayangan saya. Menurut saya, Fahri biasa-biasa aja. Ngga tau deh kalau di novel. (Katanya versi novel jauh berbeda dengan yang difilmkan. Saya sendiri belum baca novelnya. Dan tidak ada niat untuk itu.)

Selain dari ilmu dan idealisme terhadap Islamnya yang bagus, Fahri ngga punya yang lain. Terlalu serius dan kaku. Ngga pernah bercanda. Suasana rumah sepertinya garing kalau berkeluarga dengan dia.

Cara ‘berantem’nya dengan Aisha juga bagi saya terlalu kekanakkan dan emosional. Biasanya kan laki-laki lebih kalem dan tenang.

Terus, Fahri ngga bisa menolak keinginan istrinya untuk menikahi Maria. (Apa Fahrinya juga mau?) Itu menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jernih dalam kondisi penuh tekanan. Bagi saya laki-laki yang pantas digilai harus bisa mengambil keputusan terbaik dalam kondisi apapun. Kan bisa saja senjata pamungkas menyembuhkan Maria tidak dengan harus menikahinya? Misalnya dengan berkata kepada Maria yang koma: “Kalau kau mencintaiku, Maria, ayo bangunlah… Bangun…aku ada disini… Tolong aku Maria. Aku dalam kesulitan. Tolong… Tolong…” Hihi*sok novelis*. Yakin. Pasti Maria bangun. Kalau orang yang dicintai minta tolong, pasti bangunlah. Mau nolongin 😀

Fahri mau menikahi Maria juga menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jauh ke depan. Salah satu kelebihan laki-laki dibanding perempuan kan ia bisa berpikir longterm. Gimana nanti masa depan? Fahri seharusnya bisa memprediksi apa yang akan terjadi bila berpoligami. Akankah kondisi keluarganya lebih harmonis, atau malah seperti api dalam sekam? Ini kan yang akhirnya terjadi: Aisha hatinya pedih melihat suaminya dengan wanita lain. Pun Maria akhirnya meninggal karena cinta. Cie…cinta.

Satu lagi. Kok ada ya perempuan bisa sampai super depresi seperti Maria gara-gara ditinggal menikah? Sedih dan menangis sebentar sih bisa dimaklumi. Tapi berlarut-larut sampai merusak kesehatan begitu? Untuk seorang Fahri pula… Hmm, sayang.
Mudah-mudahan tidak ada Maria-Maria lain ya. Rugi!!

Sekali lagi, ini hanya tulisan kecil seorang awam film. Sekedar rumpian setelah berhasil nonton sampai tamat film ‘serius’ 🙂

Miskin, no way!

Tampaknya sekarang lagi musim kampanye anti kelaparan. Baca blog ini, itu, sana, sini, situ… dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, ternyata banyak blogger yang peduli terhadap penderitaan sesama.

Mungkin dari para blogger tersebut sudah ada yang mulai melangkah secara kongkrit membantu manusia-manusia kelaparan di sekitar maupun di luar lingkungannya. Mungkin ada pula yang serabutan sana-sini mencari dukungan untuk mengentaskan kemiskinan. Mungkin ada pula yang hanya pasang banner dan mengirim do’a.

Saya pun merasa terpanggil untuk ikut mendukung kampanye tersebut. Bukan apa-apa. Selain memang prihatin melihat Continue reading

Can’t cry hard enough

Pagi-pagi suami nyetel lagu ini. Tapi bukan versi Williams Brothers yang biasa saya dengar. Meski begitu, masih enak kok lagunya…dan bikin saya like a child letting go of his kite, eh her kite… 🙂

Can’t Cry Hard Enough —to download
by Jed Madela

I’m gonna live my life
Like everyday’s the last
Without a simple goodbye
It all goes by so fast
And now that you’re gone
I can’t cry hard enough
No I can’t cry hard enough
For you to hear me now

I’m gonna open my eyes
And see for the first time
I’ve let go of you like
A child letting go of his kite

There it goes, up in the sky
There it goes, beyond the clouds
For no reason why
I can’t cry hard enough
No I can’t cry hard enough
For you to hear me now

Gonna look back in vain
And see you standing there
But all that remains is an empty chair
And now that you’re gone
I can’t cry hard enough
No I can’t cry hard enough
For you to hear me now

There it goes, up in the sky
There it goes, beyond the clouds
For no reason why
I can’t cry hard enough
No I can’t cry hard enough
For you to hear me now.

Nonton kolong jembatan

Saya termasuk orang yang malas nonton televisi. Meski setiap stasiun televisi berlomba-lomba merebut hati dengan tayangan-tayangan baru.
Hampir semua acara (termasuk iklan) membuat saya selalu ingin mematikan TV. Atau paling tidak segera pindah channel, cari film kartun. Tayangan-tayangan di televisi bagi saya hanya menunjukkan kekacauan di nusantara ini. Kekacauan di segala bidang. Terutama kekacauan moral.

Mungkin semua juga sudah tahu. Berita-berita klise dari waktu ke waktu. Itu-itu saja. Cuma lokasi dan objek berita yang berbeda.

Tapi kali ini saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.

Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Baca selanjutnya…

Tukang Nggame, oh Tukang Nggame

Lagi coba-coba ikutan kontes SEO Tukang Nggame nih. Nggak punya bekal apa-apa sih. Selain keisengan n mudah-mudahan dapet ilmunya. Secara aku emang paling males kalo belajar teori-teori. So, learning by doing aja.

Oh, iya. Posisi blogku di SERP Google nggak masuk 10 besar nih. Kalah sama yang domain-domain yang ada kata-kata Tukang Nggamenya nih. Apa udah pasti yang domainnya ada kata-kata Tukang Nggame yang bakalan jadi pemenang? Nggak tau ya… Coba aja deh aku kasih link postingan Tukang Nggame di blogku dari sini. Kira-kira naik nggak ya posisi blogku di google?

Hih… Tukang Nggame. Biar ada di posisi atas search engine, katanya keywordnya harus sering disebut-sebut ya. Hihihi…. Iseng nih…iseng….
Tukang Nggame. Tukang Nggame. Tukang Nggame. Eh, ktauan Om Google gak ya? Udah ah, takut dimarahin.
Pokoknya test… aku lagi ngetest SEO Tukang Nggame.