Nonton kolong jembatan

Saya termasuk orang yang malas nonton televisi. Meski setiap stasiun televisi berlomba-lomba merebut hati dengan tayangan-tayangan baru.
Hampir semua acara (termasuk iklan) membuat saya selalu ingin mematikan TV. Atau paling tidak segera pindah channel, cari film kartun. Tayangan-tayangan di televisi bagi saya hanya menunjukkan kekacauan di nusantara ini. Kekacauan di segala bidang. Terutama kekacauan moral.

Mungkin semua juga sudah tahu. Berita-berita klise dari waktu ke waktu. Itu-itu saja. Cuma lokasi dan objek berita yang berbeda.

Tapi kali ini saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.

Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Baca selanjutnya…

21 Comments

Filed under Uncategorized

21 responses to “Nonton kolong jembatan

  1. judulnya nonton kolong jembatan…., endingnya pemanfaatan lahan sempit, hebat, kreatif, jeli, masih nyambung, knapa ga? contoh baik bagi ibu2 tuh, ya buat bapak2nya juga kali ya…?

  2. Tayangan-tayangan di televisi bagi saya hanya menunjukkan kekacauan di nusantara ini. Kekacauan di segala bidang. Terutama kekacauan moral.

    Saya ikut prihatin bu melihat dunia pertelevisian kita. Saya juga, teramat sangat jarang nonton televisi kita. Bukan sok atau sombong. Saya ga ingin merusak hati saya bu.

    Kalau lahannya agak luas, bisa makan gratis tiap hari tuh.

    Pernah ada teman yang bercerita, mengapa orang ga mau bercocok tanam. Selain ribet, juga ga gengsi. Mereka merasa gengsinya naik jika membeli sayur mayur. Saya setuju dengan ibu. Jika kita punya lahan yang luas, mengapa kita tidak menanam saja.

    Saya pernah menanam sawi di halaman rumah saya yang cuma secuil. Lumayan bu. Bisa dapat sayur segar dan alami. Tapi sekarang ga lagi, karena sering pindah-pindah dan tidak ditiap tempat tanahnya subur dan luas.

    Oya .. sebelum berangkat ke kantor, saya sempat nonton berita di TransTV yang melihatkan sebuah keluarga yang tinggal dibantaran kali Semarang yang makan dari sisa makanan sebuah restoran cepat saji. Dan itu sudah berlangsung selama 15 tahun.

    Mereka mengais di tong sampah restoran cepat saji tersebut. Terutama ayam gorengnya mereka kumpulkan dan kemudian di goreng lagi.

    Saya speechless bu.

  3. tehaha

    wah, bagus banget ini..
    kalo semuanya bisa kayak gini, tak perlu ada kementrian lingkungan hidup..
    ruang terbuka hijau memang jadi harga mati untuk kawasan perkotaan dewasa ini..
    eniwei lam nal yah mbak..
    bloqwalkin’ kesini..!!

  4. beginilah negara kalo udah dikuasai orang2 yang loba, orang2 yang cinta dunia dan takut mati lebih mementingkan pribadi daripada tetangga! pemerintah lebih mementingkan dirinya ketimbang rakyatnya. Kalo sudah gini, capee deeeh

  5. Ngga heran kalo sampe ada gizi buruk di tanah air ini, di Jakarta yang jadi pusatnya perputaran uang aja ada yang ngga kebagian makanan sehat.

  6. Saya juga paling benci nonton tipi, teh… Kalo nonton pun paling berita-beritanya aja sama acara2 edukasional yang di TVRI. Abisnya ibu saya doyan banget nonton sinetron en drama2 misteri melodi yang “sesat” di Ind*s**r itu, adek saya yang terkecil pun malah ikut2an.

    Udah ditegor baek2 saya malah disemprot panas2. Saya jadi kesel deh. Dampaknya pun langsung terasa, ibu dan adek saya itu jd gampang marah2. Gaya marah2nya beliau pun persis mirip seperti dicontohkan di tv.

    Duww.. cape deh tiap hari marah2 kayak gitu.. Rasanya pengin ngancurin tu tipi atawa saya kabur aja dari rumah. Huh..

    >_<

    Kehidupan rakyat indonesia memang amat sangat menyedihkan…

  7. @ babeh
    buat anak-anak dan manula juga…

    @ erander
    nonton TV jaman sekarang memang hanya membuat hati teriris-iris. Kita hanya bisa menonton beragam penderitaan orang lain tanpa bisa berbuat apa-apa.

    Saya pernah menanam sawi di halaman rumah saya yang cuma secuil. Lumayan bu. Bisa dapat sayur segar dan alami.

    Betul,Pak. Selain murah, sayuran hasil bercocok tanam juga lebih segar.

    Untuk lahan yang kurang subur, saya kira itu pe-er buat dinas pertanian, lembaga penelitian dan instansi terkait. Dan jangan hanya ada solusi di atas kertas. Seyogyanya masyarakat diajak kembali menghijaukan nusantara ini. Mulai dari pekarangan sendiri. Saya kira Indonesia memang cocoknya seperti dulu: negara agraris. Bukan seperti sekarang, yang sok industrialis.

    @ tehaha
    Kementrian lingkungan hidup tetap perlu,Mas. (Meski mungkin sekarang juga sudah jarang terdengar kiprahnya) Buat menjewer orang-orang yang suka bikin polusi n memperparah global warming. Buang sampah/limbah sembarangan, tebang pohon sembarangan, buang asap hitam knalpot, termasuk merokok…

    @ Resi Bismo
    Mudah-mudahan setelah “cape deeeh” ngga langsung apatis lalu hibernasi🙂
    Kami tunggu kepulanganmu di kampung halaman buat membangun Indonesia yang lebih baik.

    @ Samsul
    Muternya disitu-situ aja sih, Sam.

    @ BLOGIE
    Semoga para pemilik stasiun TV tidak hanya bisa mengejar uang, uang dan uang. Tapi juga bisa mempertanggungjawabkan isi siarannya. Termasuk iklan-iklan yang ditayangkan. Banyak moral anak bangsa menjadi hancur gara-gara siaran televisi. Jadi pliis deeeh…

  8. YA ALLAH…. sampe segitunya mbak…! ambil sayuran dari kali.. utnuk dimakan..

    Ya Allah, ampuni kami…

  9. Semoga Allah masih sudi membukakan hati para penjaja tayangan yang hanya mengejar keuntungan materi semata…

  10. Memang kayaknya kita ini terus dibohongi sama aparat pemerintah. Berdasarkan data BPS 2007 katanya angka kemiskinan jauh berkurang dibanding kemiskinan 2006. Artinya kelayakkan hidup di Indonesia sudah semakin membaik.

    Tapi itu kan data di atas kertas. Kalau kita melihat sekeliling kita, kemiskinan malahan semakin parah. Beberapa hari yang lalu ada orang yang meninggal akibat kelaparan. Ini bahkan tak pernah terjadi di masa lalu kecuali di masa penjajahan. Apakah kita sudah kembali ke masa penjajahan? Entahlah. Salam kenal mbak Ratna.

  11. Kemiskinan riil, kemiskinan itu nyata dan
    mampu membunuh…

  12. Pingback: Kemiskinan yang membunuh.. « Trijoko BS Weblog

  13. Pingback: DICARI : ORANG DERMAWAN, Sedikit Atau Banyak « BLOGIE

  14. @ gempur
    saya juga setengah percaya nontonnya. Sedih ya?

    @ BLOGIE
    Amiin…

    @ rafkirasyid
    Mungkinkah penjajah-penjajah itu tengah menyamar…
    Salam kenal juga…

    @ trijokobs
    Membunuh langsung dengan kelaparan, membunuh tidak langsung dengan depresi berkepanjangan. Yang tidak langsung ini lebih berbahaya. Tidak kelihatan, tapi bisa membunuh beberapa orang sekaligus. Termasuk orang yang dicintai. Seperti beberapa kasus ibu membunuh anaknya karena stress gara-gara masalah ekonomi.

  15. Kirain nonton film indonesia teranyar “kolong jembatan” gitu judulnya, he he… ternyata mba ratna lagi nonton dan prihatin dengan penderitaan yang ada dikolong jembatan tho?

  16. ah televisi kita…
    kita sampe ndak tahu lagi sedang diberitai atau dibodohi
    ndak tahu sedang dihibur atau digoblok-goblokkan
    saya juga mumet sendiri melihat orang di permainkan kok ya manut saja

    kemiskinan itu…
    apa yang miskin tuh mereka yang di kolong jembatan itu saja mbak, jangan-jangan kita semua ini juga miskin, jangan2 para pejabat para anggota dpr itu juga miskin
    miskin kepekaan untuk mendengar apa yang saudara2 kita perlukan “seperiuk nasi dan lauk hangat di dapur”

  17. @ undercover
    memang judulnya aneh sih ya? hehe…
    prihatin smuanya, Mas! Ya kolong jembatannya, ya siaran tipinya, ya yang bikin kolong jembatannya, ya yang punya stasiun tipi…

    @ mashanafie
    Betul Mas. Para pejabat itu malah lebih miskin daripada orang-orang kolong jembatan. Mereka masih mengorek-ngorek dan mengais-ngais rejeki. Sekalipun yang dikorek-korek itu harta orang lain. Hak milik orang miskin digusur, hak milik kaum dhuafa dibetot masuk dompetnya.

  18. salam kenal…
    saya malah pernah nonton CNN yg meliput orang2 di sebuah daerah “sangat miskin” di Columbia masak lumpur
    rasanya ngeriiiii buanget, kerjaan saya mengharuskan saya “sering” membuang makanan…dan disana, orang2 nya kelaparan

  19. Pingback: Miskin, no way! « Ratna’s Blog

  20. Hmmm …
    Saya hanya terdiam membaca postingan yang ini …

  21. Pingback: Ratna’s Blog» Arsip Blog » Miskin, no way!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s