Saya juga nonton Ayat Ayat Cinta lho!

Dari dulu saya memang bukan moviemania. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali saya nonton di bioskop. Itupun karena diajak orang, alias dibayarin.
Saya juga tidak pernah penasaran dengan film selaris apapun. Termasuk film Ayat Ayat Cinta yang saat ini begitu laku ditonton (sampai 3juta penonton katanyah…) Termasuk oleh Wapres dan mantan Presiden RI. Lagi pula hare gene mau ke bioskop…orok merah saya mau dikemanain?

Tapi saya ngga menolak ketika suami bawa oleh-oleh film tersebut. Apalagi filmnya bukan VCD bajakan seperti biasanya:mrgreen: Meski tetap curang juga sih…ngopi ke file. Aseklah, jadinya saya bisa nonton midnight pake layar 4 inci.

Awal nonton saya sudah merasa bosan. Dan hampir-hampir dimatikan (karena ngantuk juga sih). Jenis film begini ‘bukan gue banget‘. Saya sukanya film komedi dan film action. Saya ngga suka film yang banyak ngobrol seriusnya. Apalagi yang temanya berat dan bikin otak harus ikutan mikir jalan cerita. Ditambah lagi ngga happy ending. Huah. Habis nonton bukannya terhibur, malah bete seharian mikirin tontonan yang su’ul khotimah.

Saya ikut-ikutan ngepost Ayat Ayat Cinta bukan mau menilai bagus atau tidaknya film ini. Jujur, saya ngga tau standar film bagus itu seperti apa. Yang pasti saya surdendam karena film ini sudah berhasil bikin saya menangis. Karena ngga persiapan tisu sebelumnya, bantal dan seprai jadi basah kuyup buat ngelap air mata dan air hidung.

Setidaknya ada dua adegan dimana tangis saya membadai. Satu, adegan saat di dalam penjara. Ketika teman satu sel Fahri mengingatkan Fahri akan kisah Nabi Yusuf AS. Menyentuh sekali. Dua, adegan saat pernikahan Fahri dengan Maria di rumah sakit yang disaksikan Aisha. Sebel banget. Soalnya saya jadi ngebayangin kalau saya jadi Aisha. Hii…ngga deh! Jangan sampai!

Selain adegan-adegan yang memilukan, ada juga adegan favorit saya. Itu, yang di kereta api. Awal Fahri ketemu Aisha. Pada saat dua wanita Amerika dilarang mendapat tempat duduk dari siapapun oleh seorang muslim fanatik. Dakwah disitu top banget!!

O,ya. Sebelum nonton film ini saya sudah punya bayangan sendiri tentang bagaimana sosok Fahri yang sampai digilai empat wanita. Setelah menonton, rusak deh bayangan saya. Menurut saya, Fahri biasa-biasa aja. Ngga tau deh kalau di novel. (Katanya versi novel jauh berbeda dengan yang difilmkan. Saya sendiri belum baca novelnya. Dan tidak ada niat untuk itu.)

Selain dari ilmu dan idealisme terhadap Islamnya yang bagus, Fahri ngga punya yang lain. Terlalu serius dan kaku. Ngga pernah bercanda. Suasana rumah sepertinya garing kalau berkeluarga dengan dia.

Cara ‘berantem’nya dengan Aisha juga bagi saya terlalu kekanakkan dan emosional. Biasanya kan laki-laki lebih kalem dan tenang.

Terus, Fahri ngga bisa menolak keinginan istrinya untuk menikahi Maria. (Apa Fahrinya juga mau?) Itu menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jernih dalam kondisi penuh tekanan. Bagi saya laki-laki yang pantas digilai harus bisa mengambil keputusan terbaik dalam kondisi apapun. Kan bisa saja senjata pamungkas menyembuhkan Maria tidak dengan harus menikahinya? Misalnya dengan berkata kepada Maria yang koma: “Kalau kau mencintaiku, Maria, ayo bangunlah… Bangun…aku ada disini… Tolong aku Maria. Aku dalam kesulitan. Tolong… Tolong…” Hihi*sok novelis*. Yakin. Pasti Maria bangun. Kalau orang yang dicintai minta tolong, pasti bangunlah. Mau nolongin.

Fahri mau menikahi Maria juga menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jauh ke depan. Salah satu kelebihan laki-laki dibanding perempuan kan ia bisa berpikir longterm. Gimana nanti masa depan? Fahri seharusnya bisa memprediksi apa yang akan terjadi bila berpoligami. Akankah kondisi keluarganya lebih harmonis, atau malah seperti api dalam sekam? Ini kan yang akhirnya terjadi: Aisha hatinya pedih melihat suaminya dengan wanita lain. Pun Maria akhirnya meninggal karena cinta. Cie…cinta.

Satu lagi. Kok ada ya perempuan bisa sampai super depresi seperti Maria gara-gara ditinggal menikah? Sedih dan menangis sebentar sih bisa dimaklumi. Tapi berlarut-larut sampai merusak kesehatan begitu? Untuk seorang Fahri pula… Hmm, sayang.
Mudah-mudahan tidak ada Maria-Maria lain ya. Rugi!!

Sekali lagi, ini hanya tulisan kecil seorang awam film. Sekedar rumpian setelah berhasil nonton sampai tamat film ‘serius’🙂

10 Comments

Filed under Uncategorized

10 responses to “Saya juga nonton Ayat Ayat Cinta lho!

  1. tuh ka ikut-ikutan juga
    tapi ga ada ruguinya kan
    kalo dah lihat kan jadi bisa ngasih komenar

  2. Hai Ibu Ratna …
    saya bacanya sambil tersenyum ini …
    BTW saya belum nonton filmnya …
    Takut …

    Takut nggak sesuai dengan imajinasiku ketika membaca buku itu …🙂

    Salam saya

  3. Kok ada ya perempuan bisa sampai super depresi seperti Maria gara-gara ditinggal menikah?

    wah yang bunuh diri aja banyak kok, apalagi depresi…

  4. jarang nonton pilem ya teh? sammma dong.
    saia juga agak2 pushed to the edge waktu diajak nonton ama istri, pikir2 mungkin bawaan orok (kebetulan istri saya lagi hamil), jadi ng-escort juga ke 21.

    one thing yang saia highlight…pilem yang katanya fenomenal itu ternyata efeknya ga terlalu fenomenal. ga percaya?

    #1… ga muncul tren cewe2 muslim berhijab seperti aisha, KDM (korban demi moore) lebih dahsyat pasca kehebohan pilem ghost

    #2… ga muncul tren cowo2 muslim menghapal quran seperti fahri, AADC lebih dahsyat karna bisa menghipnotis anak2 muda nenteng2 buku2 sastra ke tempat hang out demi meng-copy cat karakter rangga

    #3… ga muncul tren mendukung poligami, secara, islam memang menghalalkan (despite on beberapa syarat dan ketentuan berlaku), arisan lebih dahsyat karna mampu menipiskan paham anti homoseksual

    jadi apanya yang fenomenal? pernah liat janji joni kan? disitu divisualkan gimana pilem bisa bawa pengaruh dahsyat buat penontonnya

    coba liat pasangan zina (a.k.a. pacaran) yang keluar dari gedong pilem setelah nonton ayat2 cinta…masih gelendotan, rangkulan, or even ciuman…padahal baru aja dapet visualisasi sistem taaruf yang diajarkan islam.

    wallahu’alam..

    kalo boleh saya mo link blognya (newbie neh), thx

  5. @ achoey sang khilaf
    hehe…

    @ nh18
    pemilik bioskop cemberut tuh…🙂

    @ deteksi
    oh ya? *pura-pura kaget*
    sayang ya…padahal dunia masih luas.

    @ tukang_ngocoblak
    mungkin disebut fenomenal karena sebelumnya belum ada film Indonesia yang ‘dibondong-bondongi’ dan ‘dijubel-jubeli’ jutaan orang.

    coba liat pasangan zina (a.k.a. pacaran) yang keluar dari gedong pilem setelah nonton ayat2 cinta…masih gelendotan, rangkulan, or even ciuman…padahal baru aja dapet visualisasi sistem taaruf yang diajarkan islam.

    Berarti dakwahnya ngga berhasil. Dakwah lewat film yang tidak efektif, salah sasaran, atau… apa ya?

  6. mau dikomntari dari mana yach?
    Secara umum filem tersebut bukan filem islami (baca:dakwah), sehingga wajar kalo pesan2 yang ada dalam filem tersebut kurang bisa menyentuh hati penonton.
    Saya udah nonton di youtube.com versi bajakannya sekarang sudah dihapus oleh pihak yang berwenang karena masalah copyright, dan seperti yang saya katakan untuk sekedar filem, AAC bagus dan worthted untuk ditonton, cuma untuk media dakwah sya rasa belum pas gitu.

  7. Saya nonton diajak anak…mungkin Ratna benar, bagi perempuan yang terbiasa berpikir kritis, melihat seorang Maria sakit hampir mati hanya karena orang yang dicintai menikah, rasanya aneh.

    Karena mungkin buat Ratna, dan saya (ehh saya Ratna juga lho)….bahwa kita mau menikah kalau ketemu orang yang cocok, yang benar saling memahami…dan bagi saya, kalau nggak ketemu juga, toh bisa tetap berkarya tanpa menikah (anak buahku banyak yang berpikiran seperti ini, apalagi peraturan kepegawaian untuk pria dan wanita sama…bisa mengadopsi anak, yang nantinya dibiayai kantor).

    Kalau pada akhirnya saya menikah, karena memang ketemu orang yang bisa saling mengerti dan memahami, mendukung karirku, membantu jika saya ada kesulitan dalam merawat anak-anak….

  8. DM

    Sebelumnya ada kok film Indonesia yang ‘dibondong-bondongi’ dan ‘dijubeli-jubeli jutaan orang. Hanya saja angka 3 juta memang milik AAC.

  9. "f"(BUKAN FAHRI LOH)

    asslm… hm bagus banget opininya mba, btw mba af1 yah ana kutip blognya mba ratna buat pengetahuan,.,., ana ikut karya tulis n insya Allah buat kepentingan umat,.,., jadi tolong ikhlasin ya mba ana ngutip dari sebagian kt2 mba,.,., syukron.

  10. @ Resi Bismo
    Yang pas yang gimana ya? Ada referensi?

    @ edratna
    Bagi saya menikah itu permainan logika lho, Bu. Terus terang, perasaan (cinta) bagi saya nomor dua. Kalau semua sudah oke dengan akal sehat, bisa mengarungi kehidupan mendatang bersama-sama, belum ada cinta pun jadilah. Dan saya rasakan sekarang, cinta itu lahir dan tumbuh pesat karena kebersamaan dan kekompakan menjalani pernikahan.

    @ DM
    Jadi disebut fenomenal karena apanya ya? Mungkin karena para petinggi ikut nonton ya?

    @ “f”(yang katanya bukan Fahri)
    Ngutip yang mana nih?
    Kasih tau juga dong karya tulisnya yang mana, InsyaAllah ana ikhlaskan…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s