Menikah tanpa cinta??

Merupakan suatu dambaan bagi setiap orang bila pernikahannya hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Hanya maut yang memisahkan. Begitu kata populernya.

Namun apa mau dikata, “Kami berdua sudah tidak ada kecocokan.” Begitu alasan klise pasangan yang akhirnya bercerai. Padahal kalau dilihat lagi ke masa lalu, mereka begitu saling mencinta sehingga memutuskan untuk menikah. Segala macam rintangan bisa disingkirkan demi menggapai pernikahan.
Ada juga pasangan yang awet sampai nenek-kakek. Tapi sebenarnya mereka berselingkuh. Dan keduanya pun sama-sama saling mengetahui. Mereka tetap dalam ikatan pernikahan demi alasan ‘gengsi bercerai’. Padahal dulu mereka berpacaran 7 tahun dan bisa saling setia meski tak dapat restu orangtua.

Ada lagi kisah seorang perempuan yang menikah sampai beberapa kali (lebih dari hatrick). Semua pernikahannya diawali dengan pacaran dan saling cinta. Namun semuanya kandas.

Dari cerita-cerita diatas, saya jadi merenung. Ternyata cinta pada awal pernikahan memang bukan hal pokok untuk mengantar sebuah pernikahan menjadi harmonis dan langgeng. Lantas apa sebenarnya yang membuat pernikahan bahagia sampai akhir hayat? Bisakah hanya dengan kekuatan cinta, pernikahan bisa selamat sampai ajal menjelang?

Menurut saya yang sok tahu, banyak faktor yang mendukung langgeng dan harmonisnya sebuah pernikahan. Beberapa mungkin ini.(Urutannya bukan berdasarkan paling penting ke tidak penting ya…)

1. Materi.
Seberapa lama orang bisa bertahan dalam kondisi morat-marit? Setiap orang mempunyai batas toleransi tertentu dalam hal materi. Orang yang terbiasa kere pun punya batas toleransi. Mungkin beberapa tahun pertama pernikahan bisa menerima dengan lapang dada kondisi megap-megap itu. Kalau kelamaan, apa masih tahan? Lihat kasus banyak ibu yang depresi karena kemiskinan. Terutama dikarenakan ia khawatir masa depan anaknya.
2. Tampilan fisik
Tidak munafik, poin ini penting. Bukan melulu masalah wajah ganteng/ cantik dan body aduhai. Tapi kebersihan, kerapihan, dan bahasa tubuh. Pokoknya: tidak cemberut dan tidak bau.
3. Keluarga pasangan
Kadang ada keluarga yang hobi ikut campur masalah rumahtangga orang lain. Yang begini biasanya malah memperkeruh suasana. Memang benar pepatah yang bilang kalau kita menikah, nikahi pula keluarganya. Jadi keluarga pasangan juga harus ‘dilihat’.
4.Simbiosis mutualisme
Keberadaan pasangan harus dirasa saling menguntungkan.
5. Respek satu sama lain
Kalau sudah ada respek, tentu tidak akan ada keinginan untuk menyakiti. Seperti menghardik, membentak, memukul, sampai selingkuh!
6. …
7. …

Intinya sih menurut saya adalah agama. Orang yang paham agama pasti ia akan berusaha memberi nafkah yang terbaik untuk keluarganya. Berusaha tampil menawan dihadapan pasangannya. Bisa bersosialisasi dengan keluarga pasangan. Berakhlak baik kepada pasangan.

Nah, kalau kita sudah bertemu dengan orang yang sebegini baik, masa sih kita tidak jatuh cinta? Apalagi ada pepatah witing tresno jalaran suko kulino. Cinta karena sering bertemu. Apalagi bertemunya dengan orang yang sangat baik dan perhatian dengan kita. Belum lagi ada acara (maaf) yang dalam bahasa sundanya making love. Artinya kan membuat cinta *heuyeuh maksa*

Jadi, jangan takut memutuskan untuk menikahi orang yang belum kita cintai. CINTA ITU BUAH DALAM PERNIKAHAN, BUKAN AKAR PERNIKAHAN. Jika bibit, bebet, bobot sudah dia miliki, kenapa tidak? Jaman sekarang, sudah jarang lho yang punya kombinasi ketiganya. Kalau sudah ketemu, hajar saja Bleh!:mrgreen: Apalagi ada hadits yang mengatakan: “Apabila datang padamu seorang muslim yang shaleh, terimalah ia. Jika ia mencintai istrinya, maka ia akan memuliakannya. Jika tidak, maka ia tidak akan menyakiti istrinya.”

Atau hadits yang populer ini: “ Wanita dinikahi karena empat perkara: yakni karena harta bendanya, karena kedudukanya, karena kecantikanya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung.” (HR.Imam Bukhari Muslim: melalui Abu Hurairah ra.)

Yang pasti, yang saya rasakan sekarang pernikahan saya bahagia. Meski dulu saya menikah tidak diawali dengan perasaan cinta. Yang ada cuma perasaan respek. Dan perasaan klik. Ini dia, the right man for my future. Begitu kata hati saya.

Insya Allah keputusan saya itu benar. Dengan bekal komitmen kuat ‘hanya maut memisahkan’ dan saling menghargai, akhirnya cinta itu pelan-pelan datang dan terpupuk dengan sendirinya.

Perjalanan rumahtangga saya masih panjang. Entah apa yang akan terjadi di depan sana. Namun saya selalu berharap, kami berdua akan selalu bersama dalam satu kapal. Mengarungi samudera kehidupan yang tidak hanya dihiasi pemandangan indah sunset dan sunrise. Namun juga ancaman ombak dan badai. Semoga kapal ini selalu bisa kami tempati dengan nyaman. Terlebih tiga bocah tampan, ganteng dan gagah sudah dikirimNya untuk menemani kami. Cepat besar ya, Nak. Biar Mama-Papamu ada yang bantu gulung layar, buang sauh, lepas jangkar, baca kompas, ramal cuaca, tangkap ikan…

Dedicated for My 8th Wedding Anniversary, tomorrow…

Baca juga:
Asyiknya menikah muda
Pacaran aman

35 Comments

Filed under Celoteh, Curhat, Renungan

35 responses to “Menikah tanpa cinta??

  1. waaahhh
    happy 8th wedding anniversary ya mbak..
    tulisannya bagus deh🙂

    Mudah2an perkawinannya langgeng..
    Mudah2an perkawinanku juga bisa langgeng..
    amin..

  2. Selamat memperingati hari ulang tahun pernihakan ya, Teh Ratna…

    Semoga makin awet rajet aja sampe tua-tua hingga menjadi muda-muda lagi kelak nanti di akherat..

    Amin..

    “Apabila datang padamu seorang muslim yang shaleh, terimalah ia. Jika ia mencintai istrinya, maka ia akan memuliakannya. Jika tidak, maka ia tidak akan menyakiti istrinya.”

    Muslim yang soleh adalah penuntun yang baik bagi seorang istri, yang walaupun si istri tidak soleh..

    Pernikahan yang penuh rahmat dan kebahagiaan adalah pernikahan yang didasari oleh kecintaan yang sama terhadap Allah SWT.

    Betul?

    *hmmm… *😕

    *sok tuwir… *😀

  3. Selamat ultah perkawinan ya Mbak Ratna..
    Semoga smkn sling respek, saling cinta, tetap dalam 1 komitmen.
    semoga juga, Si tampan, ganteng dan gagah, mnjd anak2 yg Sholeh.
    Amin.

    *nunggu diundang, makan-makan*

  4. Berarti .. hari ini dong ya hari perkawinan-nya mbak delapan tahun yang lalu?? Selamat ya mbak. Semoga langgeng dan menjadi keluarga yang sakinah mawardah.

    *nunggu kiriman besek-nya*🙂

    Kalo saya, untuk melanggengkan suatu hubungan .. baik perkawinan, persaudaraan, pertemanan dan sebagainya ada 3 faktor yang mendasarinya yaitu : saling menghormati, saling menjaga dan saling berkorban.

    Lebih detail nya silakan mampir di http://erander.wordpress.com/2007/04/09/berhubungan/

  5. dirayain kemana nih? komentator pada nunggu lho undangan makan2nya…ehehe

  6. Wahh saya udah telat ya…seharian kemarin sibuk dan pulang malam…

    Selamat atas ultah perkawinannya… percayalah cinta harus dipelihara, ibarat sebuah tanaman, yang harus dipupuk dan disiram supaya mau berbunga serta berbuah.

    Mbak Ratna, kalau udah “klik” itu namanya cinta….cewek kan memang suka bingung, pernah nggak bertanya pada diri sendiri, benarkan saya cinta sama dia? Padahal kalau ditinggal, sedihnya nggak ketulungan, dan baru sadar bahwa itu rasa cinta. Dan cinta, jika diperlihara, akan membuat cinta itu makin indah, karena kita tak melihat hanya dari segi fisik lagi, tapi ada hal lain yang lebih berharga. Percayalah…..

  7. Hmmm…hmmm….
    Mengingatkan masa lalu saya neh…
    Saya dulu ketemu sama Ibunya anak-anak, hanya 12 hari saja mbak. Kenalan langsung tak ajak NIKAH….eh..eh…kok manggut-manggut….

    Dan…hasilnya 3 kepala terlahir sebagai generasi penerus…
    Tuh…foto si Kecilku yg masih TK kecil…

    Selamat…selamat….semoga tetep LANGGENG rumah tangganya mbak…

    Salam
    dari kaltim

  8. killbill1

    point 1 s/d 7 semuanya tidak berlaku buat saya. Terbukti aku sama bini lenggeng aja,gak ada tips atau trik yang teoritis atau makai resep dari pengalaman perkawainan orang lain.

  9. @ all
    Terimakasih atas do’anya.
    Setelah saya baca berulang kali tulisan saya diatas, tampaknya tujuh poin yang saya sebutkan agak mengganggu. Mungkin karena keterbatasan saya dalam mengolah kata-kata. Sehingga bisa saja menimbulkan salah persepsi pembaca. Ada baiknya saya review nanti dalam postingan selanjutnya. Insya Allah.

    @ Putie
    Makasih.
    Langgeng. Amiin.

    @ Blogie
    Awet-rajet?🙂
    Gie, dalam bahasa Sunda itu artinya awet tapi di dalemnya berantem mulu… Rapuh, bobrok, api dalam sekam.
    O ya… kapan atuh segera menikah, wahai lelaki shaleh?
    Undang-undang ya, sambil kopdar:mrgreen:

    @ trijokobs
    wah, Trijo telat ngomen sih. Keburu udahan makan-makannya. Tinggal cuci piring… Boleh, kalau mau:mrgreen:

    @ erander
    saya ngga pake besek-an, Pak. Pake rantang…🙂

    @ edratna
    Klik itu cinta? Benarkah? Wow…
    Berarti…dulu…dulu saya udah cinta lelaki itu?🙂
    Tapi Bu,kok ngga ada deg-degan atau ser-seran ya? Yang kata anak muda jaman sekarang:chemistry…

    @ santrigundhul
    3 kepala? wah,hebat.
    Kepala negara, kepala kepolisian, kepala apa lagi?🙂 Salam buat si kecil TKnya yang lucu…

    @ killbill
    Semoga pernikahan Mas Killbill tetap langgeng ya…

  10. Happy wedding anniversary…😀

  11. happy wedding day dulu ah..🙂
    pencerahan nih buat orang-orang yang pengen nikah..
    kayak aku juga..hehehehe🙂

  12. Piringnya kok susah bener dicuci to Mbak..
    suguhane tadi apa to..
    tega bener nih..😀

  13. Duuh jadi pengen ceped2 nikah…

    salam kenal yah

  14. postingan yang mencerahkan, mbak ratna. bukan hanya bermanfaat bagi mereka yang baru ingin cari pasangan, tapi juga termasuk saya yang sudah beranak 3, hhehehehe😆 wew… postingan ini kado buat ulang tahun perkawinan yang ke-8 ya, mbak. salut, deh! semoga tetep rukun, bahagia dunia-akhirat, jadi keluarga yang sakinah mawahdah warrahmah, amiin.

  15. semoga tambah lengket sampai kakek nenek

  16. Nin

    8 tahun ya mba….
    Usia pernikahannya sama dengan saya…

    Pagi-pagi makan mi
    jangan gunakan sendok berkarat
    Buat Mba Ratna dan suami
    Semoga bahagia dunia akhirat

  17. waduh , sama kayak tulisan saya , kayaknya para blogger lagi sehati nich ya
    tapi makasih infonya ukhti berguna buat saya yang lagi mencari jodoh

  18. yellashakti

    sekedar sharing :
    “Orang yang paham agama pasti ia akan berusaha
    memberi nafkah yang terbaik untuk
    keluarganya”
    belom pasti juga teh, Ada kasus ikhwan-akhwat yang entah ketemunya gimana, dalam pernikahan saling selingkuh,kemudian bercerai. (saya sudah mendengar 2 kasus).
    pemahaman agama saja tidak cukup, hal-hal lain juga perlu dilihat. Yang penting melihat banyak hal dengan filter agama. supaya terbiasa dengan memandang sesuatu dari berbagai sudut.Semoga Allah memberi yang terbaik buat kita.
    wasalam

  19. @ charles
    Terima kasih.

    @ tehaha
    Makasih.
    Jangan cuma kepengen…

    @ trijokobs
    Sampeyan iki salah. Nyuci kok pake cat…

    @ chatoer
    Wah Pak, ada yang kebeled tugh!
    *manggil penghulu*
    Salam kenal juga.

    @ Sawali Tuhusetya

    Terima kasih do’anya Pak.

    @ nexlaip
    Amiin.

    @ Nin
    Siang-siang juga makan mi
    Sendoknya jangan diputer-puter
    Buat Mbak Nin dan juga suami
    Semoga live happily ever after:mrgreen:

    @ reallylife
    Tulisan yang mana nih? Trackback dong…

    @ yellashakti
    Paham dan tahu banyak itu beda tingkatan lho Mbak. Paham sudah masuk ranah afeksi dan tahu baru di kognitif. Begitu setahu saya.
    Apakah yang anda sebut ikhwan-akhwat itu paham agama? Apa hanya sekedar tahu banyak dan punya kelebihan dalam berpakaian saja?
    Menurut saya pemahaman agama sudah cukup. Karena agama itu holistik. Sudah mencakup semua hal. Makanya dalam AlQur’an Allah juga menyuruh kita agar selalu mempergunakan akal/ berpikir logis.
    Terima kasih share dan kunjungannya. Saya perlu banyak belajar dari Mbak.
    Salam.

  20. Pingback: Kamu mau membunuhku? Silakan…!! « BLOGIE

  21. betul jeng menik, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya (tentunya dengan izin ALLAH), kalau kita niatkan menikah lillahi ta’ala. zaman dulu kan banyak yang dijodohin, tapi justru langgeng & adem ayem aja tuh sampek kakek-nenek.
    kalo saya sih masih seumur jagung, jadi ga berani komentar banyak2. yang terpenting berdo’a saja semoga inilah pernikahan kami yang pertama dan terakhir, kita dipisahkan oleh maut tetapi dipertemukan kembali di dalam surga yang abadi. Amiiin….

  22. Betul mbak, tapi karena dunia ini makin hari makin rusak saja, makin luntur deh nilai-nilai itu, akibatnya seperti yang diceritakan diatas, walau paham masalah agama, tapi tetepa bermasalah juga…

  23. Susah juga ya Teh mencari mar’ah shalihah di zaman edan kayak gini…
    😦

  24. ohhh subhanallah so sweet…
    Bacaan ini nich yang saya sangat butuhkan sekarang ini. Pas banget buat kondisi saya sekarang. Bener deh
    “Jadi, jangan takut memutuskan untuk menikahi orang yang belum kita cintai. CINTA ITU BUAH DALAM PERNIKAHAN, BUKAN AKAR PERNIKAHAN”

    ungkapan diatas sangat menyentuh saya teh… mudah2an saya bisa belajar banyak dari apa yang telah teteh paparkan. Sukses selalu.

  25. @ kaudanaku
    Jeng menik?🙂
    Betul Mbak. Dengan izinNya, cinta itu akan tumbuh dengan baik di lahan yang subur. Berdo’a dan berusaha agar cinta itu tetap terawat baik.

    @ hoeda
    Selama manusia hidup, masalah memang selalu menyertai

    @ BLOGIE
    susah-susah gampang. Asal tahu triknya.
    Ibarat mencari jarum dalam jerami. Susah kan? Tapi bakalan gampang kalau kita tahu triknya. Bakar itu jerami sampai habis. Cari jarumnya pakai magnet yang diikat tali. Dijamin sukses.*diajarin Mac Gyver*

    @ Resi Bismo
    Hehe…jadi kapan nih memutuskannya?

  26. Mbak selamat ya, barakallah
    *saya ucapkan seperti pada pasangan baru*🙂
    Boleh nanya ya, bagaimana bisa sampai pada ini;-

    Yang ada cuma perasaan respek. Dan perasaan klik. Ini dia, the right man for my future. Begitu kata hati saya.

  27. Selamat ya. Saya suka postingannya, touch the ground.

  28. @ Yoga
    Saya bukan tipe orang penurut dan seringnya malah membantah. Makanya saya cari orang yang punya kriteria imam. Bisa mimpin saya, berwibawa, lebih tinggi ilmunya, bertanggungjawab, mengayomi makmumnya… ya standar imam gitu.
    Trus kriteria lainnya: ngga merokok. Soalnya kalau merokok sepertinya dia kurang sayang sama keluarga ya. Lebih mementingkan diri sendiri. Keluarga jadi perokok pasif, yang justru lebih berbahaya akibatnya. Uang untuk menafkahi keluarga malah dipakai beli barang untuk meracuni diri dan keluarga.


    @ muliaarif

    Terimakasih. Alhamdulillah.

  29. Pernikahan adalah sekolah cinta. Ada sebuah artikel menarik dari milis yang saya posting di blog saya : http://www.hendra.ws/pernikahan-adalah-sekolah-cinta/

  30. tidak semua seberuntung anda…selamat yaa

  31. Menikah tanpa cinta? Uh, resikonya terlalu besar. At worst, bisa terjadi perselingkuhan. At best, pernikahan yang hambar tanpa cinta.

    Yang saya SANGAT heran, kok sepertinya banyak nasehat-nasehat “berbau Islam” yang tidak mempedulikan faktor cinta dalam pernikahan, seolah-olah cinta itu tidak penting dalam Islam. Malah waktu dulu saya kuliah, ada teman saya yang ekstrem, mengatakan bahwa “menikah itu tidak boleh karena cinta, tapi harus karena ibadah”. Padahal kalau ibadah tidak ikhlas kan jadi sia-sia. Percuma bertahun-tahun menderita pernikahan yang hambar tapi sia-sia.

    Padahal menurut saya, Islam bukan agama yang kolot dan tidak manusiawi yang mengabaikan faktor cinta. Dari apa yang saya baca-baca mengenai Islam (yes, I do read a lot), Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist.

    “Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

    Tapi kenapa di Indonesia ini sepertinya agama sering dijadikan “excuse” untuk cepat-cepat mendorong orang untuk menikah? Saya sudah melihat banyak sekali teman-teman saya yang menikah tanpa cinta, karena target umur (merasa sudah harus menikah), karena kewajiban kepada keluarga, karena tekanan sosial, dsb, dsb. Dan banyak dari mereka yang jadi “mengkambinghitamkan” agama. Sepertinya saya tidak perlu bercerita lebih lanjut bahwa banyak dari mereka yang tidak bahagia, bahkan ada yang berselingkuh (the wife) dan punya simpanan (the husband).

    Sebetulnya budaya pernikahan tanpa cinta itu adalah budaya kolot dari Inggris di jaman Victoria di abad ke -19, dan mulai “ditularkan” ke masyarakat Timur melalui penjajahan. India, contohnya, tadinya adalah masyarakat yang sangat liberal, tapi masyarakat India mulai mengenal kawin paksa dan sebagainya setelah penjajahan Inggris.

    Oh, just FYI, saya sendiri bujangan, umur 34, dan terus terang, sampai sekarang saya belum ikhlas untuk menikah. Mungkin nanti akan ada wanita yang bisa membuat saya ikhlas untuk menikah, tapi mungkin juga tidak. Until then, who cares? I want to live happily (while surrounded by lots of women, mwahahaha! Just kiddding).

    Regards,

    -Kresh

  32. sy cowok, menikah tanpa cinta, sedih, sengsara, mempertahankannya
    istri diajak solat juga susah, nadanya tinggi mulu, kurang respek. sy jadi pusing.
    kami sudah punya anak 1 umur 1.5 thn. pernikahan sudah 7 tahun.. apakah masih bisa bertahan???
    ini karena salah diawal…suka kasian kalau di putus.
    dia sih sudah ngajak hidup masing masing saja, cari yang sama ama cocok.. bagiamana ini?

  33. Fatma

    Trimksh mb tulisan yg luar biasa…mbk benar kita memilih pasangan emang dr agamany.Klu semisalny ktk sdh memilih pasangan hdp tp tdk direstui ortu dg alasan dunia…akhirny dipaksa nikah ma org yg duniany lbh…dr awl tdk ada rasa cinta tp masalahny dr pihak keluarga n suami slalu mengatur…berarti nikahny biar tdk bikin malu keluarga olh krn it menikah dg orang yh mapan n puny jabatan…gmn tuch mb…thanks

  34. firly

    aslm. ur story is a relief for me. i need it. thx

  35. Great new site with alot of psoriasis and skin desiase information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s