Tjembooroo neeeh…

Ada yang bilang, cemburu itu tanda cinta.
Tapi ada yang bilang juga: kalau cinta ngga akan cemburu. Sebab ada kepercayaan di dalamnya. Cemburu itu cenderung terkontaminasi posesivitas.

Lalu…

Pernahkah kita cemburu kepada Allah? Rasanya ngga pernah ya? Kalau tidak pernah, berarti kita tidak cinta Allah dong…

Jadi?

Hmm…

Kalau kita cemburu sama pasangan, apakah itu tanda cinta? Apakah tanda ketidakpercayadirian saja? Atau ketakberdayaan? Atau hanya kesia-siaan belaka?

10 Comments

Filed under Renungan

10 responses to “Tjembooroo neeeh…

  1. wajar kalo cemburu… asal jangan pembantu sendiri dicemburui😆

  2. jadi g enak nih,
    bener juga, biasanya cinta sama someone bs ampe setengah hidup ya. Tapi giliran sama THE ONE (Allah Swt)… gimana caranya ya.

    Tapi emang hrs diupayakan. kebetulan nemu doane kayak gini :
    ”Allohummarzuqny hubbaka wahubba man yuhibbuka wal’amalal ladzy yuballighuny hubbaka waj’al habbaka ahabbal asyyaa’a ilayya”
    “Ya Allah berikan rizki kami agar mencintai Engkau dan mencintai orang-orang yang mencintai Engkau, dan beramal setiap amal itu akan membawa cintaku kepadaMu Ya Allah, dan jadikanlah cintaku padaMu sesuatu yang melebihi dari pada mencintai segala-galanya”.

  3. Zap! Betul…

    Dibalik cembokur itu ada rasa cinta… Tapi kebanyakan jalan cembokurnya selalu ke arah horizontal aja alias ke sesama manusia, nggak vertikal ke Alloh.

    Hmm.. Tapi, cembokur sama Alloh itu yang kayak gimana ya, teh?
    😕

    *ana hamba dhoif yang ingin belajar mencintai Alloh*

  4. waduh, kalo lagi cemburu sama hubby, enakny abuat pisang goreng atuh.. dimakan abreng2 pas lagi hujan, pasti romantis.

  5. Mbak, baca tulisan di atas seperti mbak nanya lalu dijawab sendiri.. saya yakin dalam hati mbak tahu betul mengapa.🙂 Ikuti sarannya Boss Ario aja mbak bikin pisang goreng, jangan lupa kirimi saya kalo udah matang, tapi Ario gak usah–kejauhan sih😀

  6. @ masowen
    Untungnya saya ngga punya pembantu🙂

    @ trijokobs
    Wah, makasih ya oleh-oleh do’anya. *Hapalin ah*

    @ BLOGIE
    Yang kayak gini kali ya ilustrasinya: “Gue udah shalat, puasa, bekerja setengah mati masih teteph aja sengsara. Giliran orang yang suka dugem, maksiat, korupsi, tapi rejekinya melimpah ruah. Allah ngga adil!”

    Heheh. Kayak gimana ya persisnya? *hadirin, ada yang tau???*

    Sama. Saya juga lagi belajar keras untuk mencintaiNya.

    @ Resi Bismo
    Yang jadi malah timpuk-timpukan pisang. Wakakak:mrgreen:
    Tapi gimanapun usulmu bagus tuh. *langsung bikin goreng pisang* *tapi dimakan sendiri*

    @ agoy
    Tau tapi ngga yakin. Gitu kali ya? Hehe..
    Jadi jatuh kasian sama Ario. Pasti di Karlsruhe ngga ada pisang goreng…

  7. Pingback: Memilih sekolah untuk anak « Ratna’s Blog

  8. wah pertanyaan yg bagus…kalau diminta menjawab, sy ngak berani. apalagi cinta bukan topik yg sy kuasai🙂

  9. Pingback: Ratna’s Blog» Arsip Blog » Memilih sekolah untuk anak

  10. eko

    salam kenal dari eko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s