Goodbye World!

Dulu saya pernah bertanya-tanya kenapa ada blogger yang menutup blognya secara tiba-tiba.

Beberapa menit lalu, keinginan untuk menutup blog ini begitu kuatnya. Sehingga saya pun tega ‘mengusir’ anak saya yang lagi nge-games untuk saya pakai PCnya.

Terima kasih untuk teman-teman yang telah berkunjung, membaca, dan berkomentar di blog saya. Sungguh memberi warna tersendiri bagi hidup saya. Begitu indah dan berkesan.

Mohon maaf jika selama ini mungkin ada kata-kata, baik balasan komen maupun postingan, atau saat saya berkomen di blog teman-teman, saya cuma menyumbang sampah. Yang bau dan tak berguna.

Terima kasih atas segala kehangatan, ilmu gratis yang telah dibagi-bagikan… dan…*lap aer mata dulu* dan segalanya…

Saya pamit. Blog ini tidak akan saya apa-apakan lagi. Dan saya tidak akan membalas komentar siapapun lagi maupun blogwalking membuat komen di blog teman-teman.

Goodbye everybody… Goodbye… *sengguk-sengguk*

Memilih sekolah untuk anak

Suatu hari di sebuah rumah di pinggir hutan belantara jalan raya . Tampak sepasang suami-istri sibuk sendiri-sendiri. Sang istri yang tengah membanting-banting adonan donat memecah keheningan, “Pih, tahun ini si Buyung masuk SD lho…”
Tak ada suara dari mulut sang suami. Yang terdengar hanya bunyi sorak-sorai pertandingan Pro Evolution Soccer 6 dari dalam laptop. Sesekali terdengar suara jempol tangan suaminya si istri tadi memainkan tombol-tombol di joystick.
I (istri): “Pih, denger ngga?”
S (suami): “Hmm…” Matanya masih tidak berkedip, memelototi terus LCD di depannya.
S : “Aaaaa…hahahaha. Goooool…gooool….!!!”
I : (Membanting adonan donat dengan emosi) “Papih!! Mamih kok dicuekin terus? Ngga dihargai. Selalu dinomorduakan. Disepelekan. Ngga dianggap. Dipoligami sama mainan anak kecil kayak begitu. Sebel. Sebel.” Continue reading

Menikah tanpa cinta??

Merupakan suatu dambaan bagi setiap orang bila pernikahannya hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Hanya maut yang memisahkan. Begitu kata populernya.

Namun apa mau dikata, “Kami berdua sudah tidak ada kecocokan.” Begitu alasan klise pasangan yang akhirnya bercerai. Padahal kalau dilihat lagi ke masa lalu, mereka begitu saling mencinta sehingga memutuskan untuk menikah. Segala macam rintangan bisa disingkirkan demi menggapai pernikahan.
Ada juga pasangan yang awet sampai nenek-kakek. Tapi sebenarnya mereka berselingkuh. Dan keduanya pun sama-sama saling mengetahui. Mereka tetap dalam ikatan pernikahan demi alasan ‘gengsi bercerai’. Padahal dulu mereka berpacaran 7 tahun dan bisa saling setia meski tak dapat restu orangtua.

Ada lagi kisah seorang perempuan yang menikah sampai beberapa kali (lebih dari hatrick). Semua pernikahannya diawali dengan pacaran dan saling cinta. Namun semuanya kandas.

Dari cerita-cerita diatas, saya jadi merenung. Ternyata cinta pada awal pernikahan memang bukan hal pokok untuk mengantar sebuah pernikahan menjadi harmonis dan langgeng. Lantas apa sebenarnya yang membuat pernikahan bahagia sampai akhir hayat? Bisakah hanya dengan kekuatan cinta, pernikahan bisa selamat sampai ajal menjelang? Continue reading

Mr.Speedy kenapa?

speedy.gifTadi subuh saya cari tanggal di HP. 29 Feb 2008. Hahh? Berarti hari terakhir bulan ini dong. Grabak-grubuk stel PC dan konekting Speedy. Baru terpakai 30 jam ternyata. Waah…sayang nih. Langsung bangunin suami biar nyalain laptopnya. “Ayo kita nginternet! Hari terakhir nih… masih ada 20 jam lagi!”

Saya langsung buka-buka tab buat cek e-mail, edit comment di blog dan baca koran online. Setelah beberapa lama. Yeee… kok problem loading page terus sih. Saya pencet terus kotak ‘try again‘ lagi dan lagi.

YM juga saya klik terus sign-in-nya. Tapi di tab yang muncul cuma titik-titik bundar yang muter terus-menerus dan diakhiri segitiga kuning. Lagi-lagi problem loading page. Aneh. Padahal lampu di modem (ethernet, USB, DSL, internet) udah nyala semua. Tanda semua terhubung dengan baik.

Suami yang baru selesai shalat langsung nyalain laptopnya juga bernasib sama. Setengah jam coba-coba ngga berhasil. Yah, sudahlah. Mungkin kami tidak diijinkanNya online pagi-pagi kali ya. Biar beres-beres rumah dulu n nyiapin sarapan. Ntar agak siangan dicoba lagi.

Setelah anak sulung saya pergi menuntut ilmu dan suami berangkat mencari nafkah (cie bahasanya!) Jam delapan pagi saya coba online lagi. Ternyata Mr.Speedy masih seperti tadi subuh. Tapi anehnya ke okezone.com bisa nyambung tuh. Ya udah, saya eksplor si oke aja. Kenyang-kenyangin baca semua berita disana. Daripada ngga ada sama sekali. (Eh, ternyata Gito Rollies sudah tutup usia ya? Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… Ketinggalan berita nih. Seharian kemarin ngga nonton TV sih.)

Tiap jam saya coba online barangkali Mr.Speedy sudah pulih. Rencananya mau distel terus sampai malam (ngabisin sisa limit) buat ngedownload dan upload sebanyak-banyaknya. Lagu, artikel-artikel, games, video klip… Sambil berdo’a semoga baby baru saya ngga rewel hingga mengganggu acara berkasih-kasihan saya dengan internet 🙂 Kalau buat dua anak saya yang lain, udah saya siapin plastisin buatan saya yang wangi strawberry dan durian. Juga cetakan-cetakannya. Play dough ceritanya. Pasti mereka anteng main lah…

Tapi sampai siang hari belum konek juga. Cuma bisa ke okezone. Nelpon ke 147 ext.2 layanan Speedy sibuuk terus. Suruh tunggu, atau hubungi beberapa saat lagi. Sampai akhirnya saya hubungi ekstension lain buat nanyain Speedy. Ternyata eh ternyata, menurut customer service Telkom, Speedy memang sedang ada gangguan di seluruh Indonesia. Ngga tau normal lagi kapan. As soon as possible kami bereskan. Katanya.

Eh, di okezone juga ada beritanya nih. Juga komen-komen pelanggan Speedy.

Yaaaah…. bukan rejeki kali ya. Waktu ke pukul 24.00 tinggal 8 jam lagi. Kalaupun nyala sekarang, berarti ada sisa waktu ngga terpakai selama 12 jam. Hmm…dasar.

Coba sisa waktu ini bisa disimpan buat bulan depan ya. Kan ngga sia-sia tuh abonemen. Atau, ngga usah mengalami hal seperti bulan kemarin. Over limit.
Ya. Bulan kemarin saya banyak pakai. Karena 2 minggu ditinggal sendiri di rumah tanpa anak-anak. Sehari 6 jam nancep terus depan komputer. Itu juga berhenti karena pegel dan takut kenapa-kenapa sama kandungan saya yang sudah hamil super tua.
Kalau bulan Februari sekarang susah online… Anak udah nambah satu. Repot deh…

Suami Bukanlah Nabi

Seorang teman wanita saya menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya.

Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (dan suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ’80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini.

Si Bapak menyebutkan bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. Entah itu dalam bentuk fantasi maupun selingkuh beneran. Ia mengatakan bahwa itu adalah ‘kenakalan’ biasa yang bisa reda dengan sendirinya.

Kaum istri tidak perlu gundah-gulana apalagi stress sampai setengah gila. Yang penting suami tetap sayang kepada keluarga. Tanggung jawab menafkahi lahir-batin. Tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah. Tetap menomorsatukan keluarga. Lain halnya kalau sampai meninggalkan keluarga.

Soal selingkuh, itu mainan wajar bagi laki-laki. Dan suami juga akan menghargai istrinya yang mengerti akan salah satu ‘kebutuhan’ khas lelaki ini. Katanya.

Entahlah. Terlepas dari ‘opini rasional’ ala si Bapak, yang pasti saya akan 3C (Cemburu, Crying, Cak-mencak tak ye…) kalau suami saya ketahuan selingkuh. Bukan tidak mungkin malah berkembang jadi 4C (3C+ Cerai) Hiii…..
Tuhan saja yang Maha Kuat dan Maha Segalanya paling marah kalau diduakan. Dosa paling besar kalau ada yang syirik kepadaNya. Qul huwallaahu ahad! Apalagi saya yang hanya seorang perempuan…

Sendiri…

Suami jaga malam, anak-anak di neneknya. Sepi nian… Tapi bukannya ini yang ditunggu-tunggu sejak lama? Ayo rayakan! Rayakan! Nikmati kesendirian yang menyedihkan indah ini.

Horee…horee…

Hari ini saya bisa:

  1. Bebas semua tugas yang kadang menjemukan. Nyiapin makan dan nyuapin, mandiin, cebokin, bercerita, ikutan main bola, disuruh jadi musuh kalau perang-perangan.
  2. Bebas pake komputer dan internet tanpa ada yang minta gantian pake, atau interupsi: “Ma, mau susu…”
  3. Bebas setel lagu favorit keras-keras, tanpa ada yang protes lagunya ga enakeun atau “Mama berisik ah!”
  4. Bebas menikmati rumah yang rapi, wangi dan bersih tanpa takut ada yang ngeberantakin mainan yang udah pada rusak berkeping-keping diatasnya, atau remah-remah makanan yang berceceran dimana-mana.
  5. Bebas menguasai remote TV sambil selonjoran dan peluk bantal yang mana aja.
  6. Bebas mandi lama-lama tanpa khawatir anak kelamaan ditinggal.
  7. Bebas luluran & maskeran tanpa ada mulut-mulut bawel nan mungil berkomentar: “Kok mandi pake jus? Ntar disemutin loh!” atau “Mama bau pepaya, jangan deket-deket!” atau “Katanya kalo pake masker bakalan cantik, tapi kok malah kayak pocong?”
  8. Bebas dari mengomel-ngomeli kalau sendal atau sepatu mereka naik ke teras yang sudah di pel.

Tapi…apakah bebas itu membahagiakan? Ternyata, ketika saya sedang tertawa-tawa menikmati tontonan di TV, saya ingat anak-anak dan suami. Andai mereka ada… tentu tawa ini akan semakin meriah. Ketika saya sedang menikmati alunan mp3, saya ingat mereka lagi. Kalau lagunya kebetulan kita suka semua *Gettin’ Jiggy With It-nya Will Smith*, kita joged sama-sama, bahkan sampai meloncat-loncat. Ingat ketika pake masker mereka meledek saya, saya kejar mereka sambil berhantu-hantu ria sampai pada lari terkekeh-kekeh.
Hmmm… belum 24 jam saya ngga ketemu mereka, udah curhat disini… Memang, sesuatu/ seseorang itu akan terasa sangat berarti ketika dia tidak ada…

Toilet di Mal

toilet.jpgAda yang mengistilahkan toilet, rest room, WC, kamar kecil, bilik termenung, tandas, atau apalah namanya. Yang pasti tempat ini selalu saya kunjungi pakai kalau sedang jalan-jalan di mal. Bukan karena tempat itu favorit sehingga saya selalu menyempatkan datang kesana. Tapi karena terpaksa saja, kebutuhan darurat, jadi mau ngga mau harus sowan kesana.
Kalau mau jujur, sebenarnya saya selalu malas jika harus melangkahkan kaki ke toilet umum, sekalipun di mal. Meski design toilet semewah apapun saya selalu was-was. Apalagi kalau pake toilet duduk, aduh…kebayang paha belakang saya harus bersentuhan dengan ‘bekas’ orang. Baca selanjutnya…