Memilih sekolah untuk anak

Suatu hari di sebuah rumah di pinggir hutan belantara jalan raya . Tampak sepasang suami-istri sibuk sendiri-sendiri. Sang istri yang tengah membanting-banting adonan donat memecah keheningan, “Pih, tahun ini si Buyung masuk SD lho…”
Tak ada suara dari mulut sang suami. Yang terdengar hanya bunyi sorak-sorai pertandingan Pro Evolution Soccer 6 dari dalam laptop. Sesekali terdengar suara jempol tangan suaminya si istri tadi memainkan tombol-tombol di joystick.
I (istri): “Pih, denger ngga?”
S (suami): “Hmm…” Matanya masih tidak berkedip, memelototi terus LCD di depannya.
S : “Aaaaa…hahahaha. Goooool…gooool….!!!”
I : (Membanting adonan donat dengan emosi) “Papih!! Mamih kok dicuekin terus? Ngga dihargai. Selalu dinomorduakan. Disepelekan. Ngga dianggap. Dipoligami sama mainan anak kecil kayak begitu. Sebel. Sebel.” Continue reading

Wanita bekerja di luar rumah?

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai mereka yang mempunyai kesibukan di luar rumah. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga cukup banyak wanita yang akhirnya merasa terjerat, jenuh, karena kehidupannya semata-mata adalah istri, ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.

Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah berperasaan seperti itu. Padahal Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.” Continue reading

PRT, perlu atau tidak

Kemarin saya menelpon seorang sahabat di luar kota. Sekedar melepas kangen. Tapi sahabat saya itu langsung minta maaf ga bisa menerima telpon saya saat itu dan berjanji malamnya dia telpon balik saya. Namun baru besoknya (tadi) pagi-pagi sekali dia baru telpon saya dan bilang kalau minggu ini lagi repot banget karena pembantunya pulang kampung. So telpon saya kemarin di reject.
Baca selanjutnya…

Asyiknya menikah muda…

teddy-wedding.gifUsia muda itu sebenarnya berapa, relatif memang. Bisa berarti usia remaja (teen), bisa berarti usia subur (15-49 tahun), bisa berarti usia produktif (15-45 tahun), bisa berapa saja tergantung usia orang yang mengatakan. Kakek saya yang berusia 80 tahun tentu bilang paman saya yang berumur 48 tahun adalah usia muda.

Boleh-boleh saja. Tapi saya ikut kebanyakan persepsi orang-orang jaman sekarang saja deh ya. Maksudnya usia baru menginjak 20. Usia ketika orang pertama kali disebut sebagai orang dewasa. Bukan remaja atau ABG lagi.

Mengapa saya bilang menikah muda itu enak? Karena pengalaman sendiri dong, ah. Saya banyak sekali merasakan keuntungan menikah di usia muda (saya 22 tahun, suami 23 tahun). Meski awalnya mengundang kontroversi dan su’udzon di keluarga besar, tapi akhirnya banyak juga yang meniru langkah kami.

Usia 20-an adalah usia yang saya rasa full of energy. Baik dari semangat maupun tenaga. Maka tidak heran apabila kalangan medis menyebutkan bahwa usia terbaik untuk bereproduksi adalah pada usia 20-an. Pada usia ini, kemungkinan melahirkan anak yang sehat dan normal adalah paling besar. Diluar usia ini, kemungkinan anak lahir cacat, keguguran, dlsb lebih tinggi. Selain itu, kondisi ibu berada pada usia yang paling prima untuk hamil dan melahirkan. Sehingga berbagai macam komplikasi yang terjadi selama kehamilan maupun persalinan bisa diminimalkan.

Selain itu, dari sisi motivasi hidup, bekerja dan meraih prestasi berada pada level paling atas. Mungkin karena pada usia ini persoalan hidup dan tingkat stress belum begitu terakumulasi. Hingga apapun yang dilakukan, bebannya akan dirasa lebih ringan karena belum terlalu terkontaminasi masalah lain.

Menikah muda memang bukan tanpa masalah. Apalagi kalau bukan karena ego masing-masing yang masih tinggi. Emosi yang masih meledak-ledak, yang kadangkala merusak pikiran jernih dan akal sehat. Usia yang sering over ekspresi. Namun jika fase-fase itu telah terlewati, dan kedua belah pihak terus berusaha memperbaiki diri dengan tetap berpegang teguh pada komitmen, Insya Allah “Setelah kesulitan itu akan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah)

Rata-rata teman-teman wanita saya menikah diatas usia 28. Teman laki-laki kebanyakan masih lajang hingga usia 30-an. Mereka beralasan ingin mengejar karier dulu. Biar pas menikah sudah punya rumah dan mobil sendiri. Ngga usah malu ikut numpang hidup dulu di mertua atau harus pusing cari kontrakan rumah. Ada juga yang kepingin santai menikmati masa muda (dan juga gaji) tanpa direcoki masalah keluarga.
Sah-sah saja. Semua punya pilihan masing-masing.
Namun saya ingin menggaris bawahi bahwa masa muda itu tidak akan datang dua kali. Sayang kalau masa reproduksi terbaik dilewatkan begitu saja gara-gara hal yang tidak begitu prinsipil.
Di usia baru menginjak 30, saya dan suami sudah akan mempunyai 3 anak. Itu sangat saving energy untuk usia tua kami. Banyak saya lihat, ‘para jompo’ masih bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih usia sekolah. Masih pontang-panting memikirkan anak yang belum selesai pendidikannya. Masa tua yang idealnya tinggal bersenang-senang mengasuh cucu dan melihat dengan bangga anak-anaknya yang telah mempunyai karier mapan.

Saya juga merasa, dengan menikah, usia muda saya lebih banyak diselamatkan. Selamat dari penghamburan waktu dan uang. Yang biasanya dilakukan lajang-lajang ketika week-end. Kalau sudah berkeluarga kan mikir dua kali. Lebih baik spent money and time with family sajah…jauh lebih bermanfaat dan lebih bertanggung jawab. Selamat dari syahwat yang tidak halal. Ini dia. Dengan menikah, pahala justru banyak dipanen dari sini.

Selain itu, dengan hadirnya anak-anak, banyak sekali hikmah yang didapat. Kesabaran lebih terasah, motivasi untuk mencari ilmu lebih tinggi, lebih punya rasa tanggung jawab, dan masih banyak lainnya. Saya yakin, hal-hal tersebut tidak akan didapat kalau saya masih lajang.

Pribadi Mem(p)esona

Note: Huruf P pada judul saya beri kandang. Sebab menurut kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar adalah “memesona”, sama seperti huruf P yang luruh pada kata “memukul”, “mematung”, dan “memikirkan”. Hanya saja kata “memesona” masih kurang “mem(p)esona” dibaca atau didengar dibanding kata “mempesona”.

Ibu saya punya koleksi buku yang cukup banyak. Salah satu diantaranya ada buku yang bikin saya terpesona. Judulnya “Pribadi Mempesona”, buah karya La Rose. Ketika itu La Rose masih berusia sekitar 50 tahun. (Sekarang beliau dimana ya?)rose-fond.jpg

Buku ini ibu saya beli pada tanggal 24 September 1989. Sekarang keadaan kertasnya sudah berwarna kuning, dengan cover yang ujung-ujungnya sudah pada kriwil.

Sudah dua kali saya khatam membaca buku ini. Dan sekarang pun masih sering baca secui-cuil, sekedar penyegaran ingatan. Entah karena saya terobsesi ingin jadi pribadi mempesona atau memang pada dasarnya buku ini memang enak dibaca…

Ini salah satu cuplikan yang bikin saya terpesona:
Sesungguhnya setiap orang adalah pribadi yang mempesona. Setiap orang punya pesona dalam dirinya sendiri. Pesonanya adalah cahaya mutiara kepribadiannya.

Akan tetapi, banyak orang tak sadar akan pesona pribadinya yang tak memancar. Seperti mutiara, ia terpendam dalam lumpur kehidupan yang bernama kesibukan sehari-hari, ketakpedulian pada lingkungan, juga ketakpedulian pada kekasihnya, juga ketakpedulian pada dirinya sendiri.
Atau seperti mutiara, ia lupa mengasah dirinya, hingga pesonanya tak sempat memancar. Atau hanya pudar.

Seseorang yang mempesonakan, apakah ia lelaki atau perempuan, adalah seseorang yang berbahagia. Oleh karenanya ia dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain dan lingkungannya. Ia memberikan kebahagiaan pada sanak keluarga, mereka yang bekerja untuknya, atau untuk orang lain tempat ia bekerja.

Nanny 911

nanny911.jpg Pernah nonton acara ini?
Asyik juga. Meski tidak menjadi agenda wajib saya untuk menontonnya.
Reality show ini tayang setiap Sabtu di Metro TV jam 16.00. Topiknya mengenai pengasuh (nanny) yang diutus ditugaskan selama 1 minggu untuk ‘membereskan’ keluarga yang ‘berantakan’ karena anak. Umumnya permasalahan adalah anak-anak yang super bandel, pembangkang, susah diatur sehingga membuat orangtua, terutama sang ibu, menjadi stress berat.
Setelah menonton tayangan ini beberapa kali, saya jadi punya kesimpulan sendiri bahwa peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya sangatlah krusial. Dari semua episode yang pernah saya tonton, penyebab utama mengapa anak menjadi ‘goreng adat’ adalah karena ibunya. Entah itu ibu yang super bawel maupun yang terlalu penurut kepada anak.nanny.jpgSelanjutnya…

Sendiri…

Suami jaga malam, anak-anak di neneknya. Sepi nian… Tapi bukannya ini yang ditunggu-tunggu sejak lama? Ayo rayakan! Rayakan! Nikmati kesendirian yang menyedihkan indah ini.

Horee…horee…

Hari ini saya bisa:

  1. Bebas semua tugas yang kadang menjemukan. Nyiapin makan dan nyuapin, mandiin, cebokin, bercerita, ikutan main bola, disuruh jadi musuh kalau perang-perangan.
  2. Bebas pake komputer dan internet tanpa ada yang minta gantian pake, atau interupsi: “Ma, mau susu…”
  3. Bebas setel lagu favorit keras-keras, tanpa ada yang protes lagunya ga enakeun atau “Mama berisik ah!”
  4. Bebas menikmati rumah yang rapi, wangi dan bersih tanpa takut ada yang ngeberantakin mainan yang udah pada rusak berkeping-keping diatasnya, atau remah-remah makanan yang berceceran dimana-mana.
  5. Bebas menguasai remote TV sambil selonjoran dan peluk bantal yang mana aja.
  6. Bebas mandi lama-lama tanpa khawatir anak kelamaan ditinggal.
  7. Bebas luluran & maskeran tanpa ada mulut-mulut bawel nan mungil berkomentar: “Kok mandi pake jus? Ntar disemutin loh!” atau “Mama bau pepaya, jangan deket-deket!” atau “Katanya kalo pake masker bakalan cantik, tapi kok malah kayak pocong?”
  8. Bebas dari mengomel-ngomeli kalau sendal atau sepatu mereka naik ke teras yang sudah di pel.

Tapi…apakah bebas itu membahagiakan? Ternyata, ketika saya sedang tertawa-tawa menikmati tontonan di TV, saya ingat anak-anak dan suami. Andai mereka ada… tentu tawa ini akan semakin meriah. Ketika saya sedang menikmati alunan mp3, saya ingat mereka lagi. Kalau lagunya kebetulan kita suka semua *Gettin’ Jiggy With It-nya Will Smith*, kita joged sama-sama, bahkan sampai meloncat-loncat. Ingat ketika pake masker mereka meledek saya, saya kejar mereka sambil berhantu-hantu ria sampai pada lari terkekeh-kekeh.
Hmmm… belum 24 jam saya ngga ketemu mereka, udah curhat disini… Memang, sesuatu/ seseorang itu akan terasa sangat berarti ketika dia tidak ada…