Tjembooroo neeeh…

Ada yang bilang, cemburu itu tanda cinta.
Tapi ada yang bilang juga: kalau cinta ngga akan cemburu. Sebab ada kepercayaan di dalamnya. Cemburu itu cenderung terkontaminasi posesivitas.

Lalu…

Pernahkah kita cemburu kepada Allah? Rasanya ngga pernah ya? Kalau tidak pernah, berarti kita tidak cinta Allah dong…

Jadi?

Hmm…

Kalau kita cemburu sama pasangan, apakah itu tanda cinta? Apakah tanda ketidakpercayadirian saja? Atau ketakberdayaan? Atau hanya kesia-siaan belaka?

Wanita bekerja di luar rumah?

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai mereka yang mempunyai kesibukan di luar rumah. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga cukup banyak wanita yang akhirnya merasa terjerat, jenuh, karena kehidupannya semata-mata adalah istri, ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.

Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah berperasaan seperti itu. Padahal Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.” Continue reading

Hajatan oh… hajatan

Beberapa bulan lalu keluarga saya mendapat undangan untuk menghadiri acara syukuran khitanan putra salah seorang ********* . Meski diadakan di halaman rumah, acara berlangsung sangat meriah. Ada orkes dangdut…eh,bukan. Nyanyi-nyanyi pakai iringan keyboard dengan speaker distel overloud. Hidangan pun tersaji dengan wah. Aneka menu makanan dan minuman yang sangat beragam membuat lidah ini tak mau pulang (??) Tuan rumah pun tak ketinggalan meriah. Terlihat dari busana yang mereka kenakan. Sangat jauh dengan apa yang saya pakai hari itu.
Yah…pokokya untuk ukuran saya, pasti hajatan itu menelan biaya lumayan besar.

Namun saat malam tiba. Secara tak sengaja saya mendengar suara ribut-ribut. Orang berantem. Yang satu suara nyonya rumah pemilik hajatan, satu lagi suara laki-laki yang entah siapa, berkata-kata kasar. Saat itu saya dalam keadaan tidak bisa beranjak dari tempat saya jongkok berada (tempat dirahasiakan :mrgreen: ) dan berada dekat tempat mereka ribut. Jadi percakapan itu mau tak mau bisa saya dengar dengan jelas. Wah, ternyata topiknya berat nih. Soalnya Continue reading

Menikah tanpa cinta??

Merupakan suatu dambaan bagi setiap orang bila pernikahannya hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Hanya maut yang memisahkan. Begitu kata populernya.

Namun apa mau dikata, “Kami berdua sudah tidak ada kecocokan.” Begitu alasan klise pasangan yang akhirnya bercerai. Padahal kalau dilihat lagi ke masa lalu, mereka begitu saling mencinta sehingga memutuskan untuk menikah. Segala macam rintangan bisa disingkirkan demi menggapai pernikahan.
Ada juga pasangan yang awet sampai nenek-kakek. Tapi sebenarnya mereka berselingkuh. Dan keduanya pun sama-sama saling mengetahui. Mereka tetap dalam ikatan pernikahan demi alasan ‘gengsi bercerai’. Padahal dulu mereka berpacaran 7 tahun dan bisa saling setia meski tak dapat restu orangtua.

Ada lagi kisah seorang perempuan yang menikah sampai beberapa kali (lebih dari hatrick). Semua pernikahannya diawali dengan pacaran dan saling cinta. Namun semuanya kandas.

Dari cerita-cerita diatas, saya jadi merenung. Ternyata cinta pada awal pernikahan memang bukan hal pokok untuk mengantar sebuah pernikahan menjadi harmonis dan langgeng. Lantas apa sebenarnya yang membuat pernikahan bahagia sampai akhir hayat? Bisakah hanya dengan kekuatan cinta, pernikahan bisa selamat sampai ajal menjelang? Continue reading

Miskin, no way!

Tampaknya sekarang lagi musim kampanye anti kelaparan. Baca blog ini, itu, sana, sini, situ… dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, ternyata banyak blogger yang peduli terhadap penderitaan sesama.

Mungkin dari para blogger tersebut sudah ada yang mulai melangkah secara kongkrit membantu manusia-manusia kelaparan di sekitar maupun di luar lingkungannya. Mungkin ada pula yang serabutan sana-sini mencari dukungan untuk mengentaskan kemiskinan. Mungkin ada pula yang hanya pasang banner dan mengirim do’a.

Saya pun merasa terpanggil untuk ikut mendukung kampanye tersebut. Bukan apa-apa. Selain memang prihatin melihat Continue reading

Nonton kolong jembatan

Saya termasuk orang yang malas nonton televisi. Meski setiap stasiun televisi berlomba-lomba merebut hati dengan tayangan-tayangan baru.
Hampir semua acara (termasuk iklan) membuat saya selalu ingin mematikan TV. Atau paling tidak segera pindah channel, cari film kartun. Tayangan-tayangan di televisi bagi saya hanya menunjukkan kekacauan di nusantara ini. Kekacauan di segala bidang. Terutama kekacauan moral.

Mungkin semua juga sudah tahu. Berita-berita klise dari waktu ke waktu. Itu-itu saja. Cuma lokasi dan objek berita yang berbeda.

Tapi kali ini saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.

Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Baca selanjutnya…

Surga di Telapak Kaki Ibu

Ungkapan tersebut pertama kali saya dapatkan dahulu,waktu masih duduk di SD. Sempat ngga ‘ngeh’. Sampai-sampai saya amati telapak kaki ibu, berharap ada semacam layar TV yang mempertontonkan surga disana.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya memperoleh pengertian tentang ‘surga di telapak kaki ibu’ (SDTKI). Bahwa sebagai anak kita tidak boleh menyakiti hati ibu. Berbuat durhaka, atau apapun yang menyebabkan ibu marah apalagi menangis. Sebab jika kita sebagai anak sudah berani menyakiti hati ibu, maka kita tidak akan masuk surga. Alias neraka balasannya.

Pengertian ini saya dapatkan di sekolah, pada pelajaran agama. Juga dari buku-buku dan komik-komik. Cerita tentang Malin Kundang yang jadi batu, Si Boncel yang berpenyakit kulit, dan seorang pejuang Islam di jaman Rasulullah SAW yang tersiksa luar biasa dalam menghadapi sakaratul maut karena durhaka kepada ibunya.

Namun kini pengertian saya terhadap SDTKI berubah. Mungkin karena melihat fenomena sekarang yang justru lebih banyak ibu yang durhaka kepada anaknya. Continue reading