Wanita bekerja di luar rumah?

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai mereka yang mempunyai kesibukan di luar rumah. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga cukup banyak wanita yang akhirnya merasa terjerat, jenuh, karena kehidupannya semata-mata adalah istri, ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.

Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah berperasaan seperti itu. Padahal Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.” Continue reading

Saya juga nonton Ayat Ayat Cinta lho!

Dari dulu saya memang bukan moviemania. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali saya nonton di bioskop. Itupun karena diajak orang, alias dibayarin.
Saya juga tidak pernah penasaran dengan film selaris apapun. Termasuk film Ayat Ayat Cinta yang saat ini begitu laku ditonton (sampai 3juta penonton katanyah…) Termasuk oleh Wapres dan mantan Presiden RI. Lagi pula hare gene mau ke bioskop…orok merah saya mau dikemanain?

Tapi saya ngga menolak ketika suami bawa oleh-oleh film tersebut. Apalagi filmnya bukan VCD bajakan seperti biasanya :mrgreen: Meski tetap curang juga sih…ngopi ke file. Aseklah, jadinya saya bisa nonton midnight pake layar 4 inci.

Awal nonton saya sudah merasa bosan. Dan hampir-hampir dimatikan (karena ngantuk juga sih). Jenis film begini ‘bukan gue banget‘. Saya sukanya film komedi dan film action. Saya ngga suka film yang banyak ngobrol seriusnya. Apalagi yang temanya berat dan bikin otak harus ikutan mikir jalan cerita. Ditambah lagi ngga happy ending. Huah. Habis nonton bukannya terhibur, malah bete seharian mikirin tontonan yang su’ul khotimah.

Saya ikut-ikutan ngepost Ayat Ayat Cinta bukan mau menilai bagus atau tidaknya film ini. Jujur, saya ngga tau standar film bagus itu seperti apa. Yang pasti saya surdendam karena film ini sudah berhasil bikin saya menangis. Karena ngga persiapan tisu sebelumnya, bantal dan seprai jadi basah kuyup buat ngelap air mata dan air hidung.

Setidaknya ada dua adegan dimana tangis saya membadai. Satu, adegan saat di dalam penjara. Ketika teman satu sel Fahri mengingatkan Fahri akan kisah Nabi Yusuf AS. Menyentuh sekali. Dua, adegan saat pernikahan Fahri dengan Maria di rumah sakit yang disaksikan Aisha. Sebel banget. Soalnya saya jadi ngebayangin kalau saya jadi Aisha. Hii…ngga deh! Jangan sampai!

Selain adegan-adegan yang memilukan, ada juga adegan favorit saya. Itu, yang di kereta api. Awal Fahri ketemu Aisha. Pada saat dua wanita Amerika dilarang mendapat tempat duduk dari siapapun oleh seorang muslim fanatik. Dakwah disitu top banget!!

O,ya. Sebelum nonton film ini saya sudah punya bayangan sendiri tentang bagaimana sosok Fahri yang sampai digilai empat wanita. Setelah menonton, rusak deh bayangan saya. Menurut saya, Fahri biasa-biasa aja. Ngga tau deh kalau di novel. (Katanya versi novel jauh berbeda dengan yang difilmkan. Saya sendiri belum baca novelnya. Dan tidak ada niat untuk itu.)

Selain dari ilmu dan idealisme terhadap Islamnya yang bagus, Fahri ngga punya yang lain. Terlalu serius dan kaku. Ngga pernah bercanda. Suasana rumah sepertinya garing kalau berkeluarga dengan dia.

Cara ‘berantem’nya dengan Aisha juga bagi saya terlalu kekanakkan dan emosional. Biasanya kan laki-laki lebih kalem dan tenang.

Terus, Fahri ngga bisa menolak keinginan istrinya untuk menikahi Maria. (Apa Fahrinya juga mau?) Itu menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jernih dalam kondisi penuh tekanan. Bagi saya laki-laki yang pantas digilai harus bisa mengambil keputusan terbaik dalam kondisi apapun. Kan bisa saja senjata pamungkas menyembuhkan Maria tidak dengan harus menikahinya? Misalnya dengan berkata kepada Maria yang koma: “Kalau kau mencintaiku, Maria, ayo bangunlah… Bangun…aku ada disini… Tolong aku Maria. Aku dalam kesulitan. Tolong… Tolong…” Hihi*sok novelis*. Yakin. Pasti Maria bangun. Kalau orang yang dicintai minta tolong, pasti bangunlah. Mau nolongin 😀

Fahri mau menikahi Maria juga menunjukkan kalau Fahri tidak bisa berpikir jauh ke depan. Salah satu kelebihan laki-laki dibanding perempuan kan ia bisa berpikir longterm. Gimana nanti masa depan? Fahri seharusnya bisa memprediksi apa yang akan terjadi bila berpoligami. Akankah kondisi keluarganya lebih harmonis, atau malah seperti api dalam sekam? Ini kan yang akhirnya terjadi: Aisha hatinya pedih melihat suaminya dengan wanita lain. Pun Maria akhirnya meninggal karena cinta. Cie…cinta.

Satu lagi. Kok ada ya perempuan bisa sampai super depresi seperti Maria gara-gara ditinggal menikah? Sedih dan menangis sebentar sih bisa dimaklumi. Tapi berlarut-larut sampai merusak kesehatan begitu? Untuk seorang Fahri pula… Hmm, sayang.
Mudah-mudahan tidak ada Maria-Maria lain ya. Rugi!!

Sekali lagi, ini hanya tulisan kecil seorang awam film. Sekedar rumpian setelah berhasil nonton sampai tamat film ‘serius’ 🙂

PRT, perlu atau tidak

Kemarin saya menelpon seorang sahabat di luar kota. Sekedar melepas kangen. Tapi sahabat saya itu langsung minta maaf ga bisa menerima telpon saya saat itu dan berjanji malamnya dia telpon balik saya. Namun baru besoknya (tadi) pagi-pagi sekali dia baru telpon saya dan bilang kalau minggu ini lagi repot banget karena pembantunya pulang kampung. So telpon saya kemarin di reject.
Baca selanjutnya…

Sendiri…

Suami jaga malam, anak-anak di neneknya. Sepi nian… Tapi bukannya ini yang ditunggu-tunggu sejak lama? Ayo rayakan! Rayakan! Nikmati kesendirian yang menyedihkan indah ini.

Horee…horee…

Hari ini saya bisa:

  1. Bebas semua tugas yang kadang menjemukan. Nyiapin makan dan nyuapin, mandiin, cebokin, bercerita, ikutan main bola, disuruh jadi musuh kalau perang-perangan.
  2. Bebas pake komputer dan internet tanpa ada yang minta gantian pake, atau interupsi: “Ma, mau susu…”
  3. Bebas setel lagu favorit keras-keras, tanpa ada yang protes lagunya ga enakeun atau “Mama berisik ah!”
  4. Bebas menikmati rumah yang rapi, wangi dan bersih tanpa takut ada yang ngeberantakin mainan yang udah pada rusak berkeping-keping diatasnya, atau remah-remah makanan yang berceceran dimana-mana.
  5. Bebas menguasai remote TV sambil selonjoran dan peluk bantal yang mana aja.
  6. Bebas mandi lama-lama tanpa khawatir anak kelamaan ditinggal.
  7. Bebas luluran & maskeran tanpa ada mulut-mulut bawel nan mungil berkomentar: “Kok mandi pake jus? Ntar disemutin loh!” atau “Mama bau pepaya, jangan deket-deket!” atau “Katanya kalo pake masker bakalan cantik, tapi kok malah kayak pocong?”
  8. Bebas dari mengomel-ngomeli kalau sendal atau sepatu mereka naik ke teras yang sudah di pel.

Tapi…apakah bebas itu membahagiakan? Ternyata, ketika saya sedang tertawa-tawa menikmati tontonan di TV, saya ingat anak-anak dan suami. Andai mereka ada… tentu tawa ini akan semakin meriah. Ketika saya sedang menikmati alunan mp3, saya ingat mereka lagi. Kalau lagunya kebetulan kita suka semua *Gettin’ Jiggy With It-nya Will Smith*, kita joged sama-sama, bahkan sampai meloncat-loncat. Ingat ketika pake masker mereka meledek saya, saya kejar mereka sambil berhantu-hantu ria sampai pada lari terkekeh-kekeh.
Hmmm… belum 24 jam saya ngga ketemu mereka, udah curhat disini… Memang, sesuatu/ seseorang itu akan terasa sangat berarti ketika dia tidak ada…

Bedah Caesar

caesar.jpgSecara umum yang dimaksud bedah caesar adalah pengeluaran bayi melalui rahim, atau tidak melalui jalan alami. Perut ibu dibedah, kemudian rahimnya dibedah karena bayi letaknya di dalam rahim yang terletak di dalam perut. Tindakan ini biasanya dilakukan saat usia kehamilan paling tidak 37 minggu, terutama bagi bedah caesar yang terencana.

Di beberapa negara maju, misalnya di Belanda, prosentase bedah caesar kecil yaitu sekitar 9 – 13 persen Di Amerika, sekitar 22 persen. Sayangnya, di Indonesia, prosentasenya masih besar, yaitu lebih dari 50 persen, terutama di rumah sakit-rumah sakit swasta.

Sebetulnya, penyebab perlu dilakukannya bedah caesar tidak banyak, yaitu: Selanjutnya…